Khilafah dan Demokrasi


Oleh: Adian Husaini*

Sebenarnya, masalah demokrasi bisa dibicarakan dengan lebih ilmiah. Istilah “demokrasi” tidak tepat didikotomikan dengan istilah “khilafah”. Tetapi, lebih tepat, jika “demokrasi” versus “teokrasi”. Sistem khilafah beda dengan keduanya. Sebagian unsur dalam sistem khilafah ada unsur demokrasi (kekuasaan di tangan rakyat) dan sebagian lain ada unsur teokrasi (kedaulatan hukum di tangan Tuhan). Membenturkan demokrasi dengan khilafah, menurut saya, tidak tepat.

Sistem demokrasi ada yang bisa dimanfaatkan untuk dakwah, Karena adanya kebebasan berpendapat. Maka, Hizbut Tahrir justru berkembang ke negara-negara yang menganut sistem demokrasi, seperti di Indonesia. Di AS, Inggris, dsb, HT lebih bebas bergerak dibanding dengan di Arab Saudi. Karena itu, demokrasi memang harus dinikmati, selama tidak bertentangan dengan Islam. Itulah yang dilakukan oleh berbagai gerakan Islam, dengan caranya masing2. ada yang masuk sistem politik, ada yang di luar sistem politik,tetapi masuk sistem pendidikan, dll.  Tapi, mereka tetap hidup dan menikmati sistem demokrasi. saat HTI menjadi Ormas, itu juga sedang memanfaatkan sistem demokrasi, karena sistem keormasan di Indonesia memang “demokratis”.

Karena itu, menolak semua unsur dalam demokrasi juga tidak tepat. Karena demokrasi adalah istilah asing yang harus dikaji secara kritis. Para ulama kita sudah banyak melakukan kajian terhadap demokrasi, mereka beda-beda pendapat dalam soal menyikapinya. tapi, semuanya menolak aspek “kedaulatan hukum” diserahkan kepada rakyat, sebab kedaulatan hukum merupakan wilayah Tuhan. kajian yang cukup bagus dilakukan oleh Prof Hasbi ash-Shiddiqy dalam buku Ilmu Kenegaraan dalam Fiqih Islam.

Inilah yang kita sebut sebagai proses Islamisasi: menilai segala sesuatu istilah  “asing” dengan parameter Islam. Contoh kajian yang bagus dilakukan oleh Ibn Taymiyah dalam menilai istilah-istilah dalam sufi, yang asing dalam Islam, seperti “kasyaf”, “fana”, dan sebagainya. al-Ghazali juga contoh yang baik saat menilai istilah dan faham “falsafah”. ada yang diterimanya, tetapi juga ada yang ditolaknya.

Jadi, menurut saya, kenajisan istilah “demokrasi”  bukan “lidzatihi”, tetapi “lighairihi”, karena masih bisa “disamak”. Saat ini pun kita telah menggunakan berbagai istilah asing yang sudah diislamkan maknanya, seperti “agama”, “dosa”, “sorga”, “neraka”, “pahala”, dll.

Masalah khilafah juga perlu didudukkan pada tempatnya. Khilafah adalah sistem politik Islam yang unik dan khas. Tentu, agama dan ideologi apa pun, memerlukan dukungan sistem politik untuk eksis atau berkembang. Tetapi, nasib dan eksistensi umat Islam tidak semata-mata bergantung pada khilafah. Kita dijajah Belanda selama ratusan tahun, Islam tetap eksis, dan bahkan, jarang sekali ditemukan kasus pemurtadan umat Islam. Dalam sejarah, khilafah juga pernah menjadi masalah bahkan sumber kerusakan umat, ketika sang khalifah zalim. Dalam sistem khilafah, penguasa/khalifah memiliki otoritas yang sangat besar. Sistem semacam ini memiliki keuntungan: cepat baik jika khalifahnya baik, dan cepat rusak jika khalifahnya rusak. Ini berbeda dengan sistem demokrasi yang membagi-bagi kekuasaan secara luas.

Jadi, ungkapan “masalah umat akan beres jika khilafah berdiri”, juga tidak selalu tepat. Yang lebih penting, menyiapkan orang-orang yang akan memimpin umat Islam. Itulah yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Entah mengapa Rasulullah saw — setahu saya — tidak banyak (hampir tidak pernah?) mengajak umat Islam untuk mendirikan negara Islam. meskipun negara pasti suatu hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan umat Islam, sebab berbagai aspek hukum dan kehidupan umat terkait dengan negara.

Tapi, saya tidak ketemu hadits: “Mari kita dirikan negara, agar kita jaya!”  Tentu, bukan berarti negara tidak penting.

Terakhir, soal “cara mendirikan khilafah”. Saya sering terima SMS, bahwa khilafah adalah solusi persoalan umat. beberapa kali acara, saya ditanya, mengapa saya tidak membicarakan khilafah sebagai solusi umat! Saya pernah sampaikan kepada pimpinan HTI, tahun 2010 lalu, tentang masalah ini.

  Menurut saya, semangat mendirikan khilafah perlu dihargai. itu baik. tetapi, perlu didudukkan pada tempatnya juga. itu yang namanya adil. Jangan sampai, ada pemahaman, bahwa orang-orang yang rajin melafalkan kata khilafah dan rajin berdemo untuk menuntut khilafah merasa lebih baik daripada para dai kita yang berjuang di pelosok membentengi aqidah umat, meskipun mereka tidak pernah berdemo menuntut khilafah, atau bergabung dengan suatu kelompok yang menyatakan ingin mendirikan khilafah.

“Mendirikan khilafah” itu juga suatu diskusi tersendiri. Bagaimana caranya? AD Muhammadiyah menyatakan ingin mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya! Persis juga punya tujuan serupa. DDII juga sama. Mars MTQ ada ungkapan “Baldatun Thayyitabun wa Rabbun Ghafur”. Apa itu tidak identik dengan “khilafah”. AD/ART PKS juga ingin memenangkan Islam.

Walhasil, menurut saya, dimensi perjuangan Islam itu sangat luas. semua kita yang ingin tegaknya Islam, perlu bekerjasama dan saling menghormati. Saya sebenarnya enggan menulis semacam ini, Karena saya sudah menyampaikan secara internal. tetapi, karena diskusi masalah semacam ini sudah terjadi berulang kali.

Masalah umat ini terlalu besar untuk hanya ditangani atau diatasi sendirian oleh PKS, HTI, NU, Muhammadiyah, INsists, dll. Kewajiban diantara kita adalah melakukan taushiyah, bukan saling mencerca dan saling membenci. Saya merasa dan mengakui, kadang terlalu sulit untuk berjuang benar-benar ikhlas karena Allah. Bukan berjuang untuk kelompok, tapi untuk kemenangan Islam dan ikhlas karena Allah. Wallahu a’lam bish-shawab. (adian husaini).

*diulas di milis INSIST 17 November 2011

insistnet@yahoogroups.com

5 thoughts on “Khilafah dan Demokrasi

  1. Di era modern ini, suatu sistem pemerintahan akan berjalan jika didukung rakyat. Pemaksaan sistem negara dari kelompok elit tidak akan bertahan lama jika tidak didukung rakyat.

    Kalau memang khilafah merupakan sistem yg baik, para pendukungnya harus menjelaskan secara detil bagaimana pelaksanaannya kelak, bukan cuma jargon2 indah tanpa detil atau nostalgia masa lalu. Bila unggul, pasti rakyat mendukung.

    Untuk melihat khilafah dalam sejarah, bisa berkunjung ke tulisan berikut:
    Khilafah. Negara Islam Dalam Sejarah

  2. Buat Pak Adian, “Tapi, saya tidak ketemu hadits: “Mari kita dirikan negara, agar kita jaya!” Tentu, bukan berarti negara tidak penting”. menurut saya cara berfikir yang aneh untuk seorang Adian Husaini.
    “Masalah khilafah juga perlu didudukkan pada tempatnya. Khilafah adalah sistem politik Islam yang unik dan khas. Tentu, agama dan ideologi apa pun, memerlukan dukungan sistem politik untuk eksis atau berkembang.” Dan Islam memerlukan khilafah. “Tetapi, nasib dan eksistensi umat Islam tidak semata-mata bergantung pada khilafah.” Benar demikian nasib manusia bergantung kepada Allah. Khilafah hanyalah kewajiban dari Allah dan Rasul-Nya yang menjadi mekanisme yang dicontohkan oleh Rasul SAW dan Khulafaur Rasyidin yang diberkahi untuk menjalankan syariah. Dan umat Islam lebih layak mengambil contoh itu daripada mengambil demokrasi yang sama sekali tidak pernah disebut dalam Al Qur’an dan Hadits. Lagian saya juga belum ketemu hadits:”mari islamkan demokrasi, agar kita jaya!”
    “Kita dijajah Belanda selama ratusan tahun, Islam tetap eksis, dan bahkan, jarang sekali ditemukan kasus pemurtadan umat Islam.” Apakah persoalan yang perlu disikapi hanya pemurtadan dalam persoalan penjajahan? Lucu, mungkin lupa kisah si snouk di Aceh, memang tidak sampai murtad, cuma dijauhkan dari ajaran Islam yang bener, mungkin menurut Pak Adian sekedar “bukan tidak penting”?! Peran khilafah membantu mengusir penjajah juga mungkin tidak terlalu penting untuk dibahas menurut beliau. Kaum muslimin yang melawan belanda dengan jihad dan syahid juga bukan persoalan eksistensi umat. Jadi kewajiban khilafah tidak perlu dilaksanakan karena “jarang sekali ditemukan kasus pemurtadan umat islam”.
    “Dalam sejarah, khilafah juga pernah menjadi masalah bahkan sumber kerusakan umat, ketika sang khalifah zalim.” Opini yang tidak adil! Sepanjang sejarah demokrasi menjadi sumber kerusakan umat manusia tidak hanya muslim meskipun sang presiden baik, apalagi yang presidennya dholim! “Dalam sistem khilafah, penguasa/khalifah memiliki otoritas yang sangat besar. Sistem semacam ini memiliki keuntungan: cepat baik jika khalifahnya baik, dan cepat rusak jika khalifahnya rusak. Ini berbeda dengan sistem demokrasi yang membagi-bagi kekuasaan secara luas.” Pak Adian, trias politika apakah menurut anda membuat negara ini lebih baik? Apakah dengan kekuasaan yang dibagi-bagi membuat rakyat bahagia, negara makmur dan rakyat beradab serta memperlambat kerusakan?
    Dalam rentang sejarah panjang dunia, khilafah memberikan kebaikan kepada dunia, apakah yang diberikan demokrasi dalam rentang sempit sejarahnya?
    Perlu perbandingan yang adil!
    Saya berbahagia saat ini bahwa khilafah sudah menjadi istilah yang kembali hadir dan disambut oleh kaum muslimin dari ormas manapun. Dan tidak ada persoalan di antara kaum muslimin tentang khilafah kecuali berasal dari para pengusung demokrasi, nah ini lho Pak Ardian yang jadi masalah! Mengapa para pengusung dan pendukung demokrasi ini ribut soal umat Islam yang menginginkan khilafah? Ini kan haknya orang Islam, orang Islam yang menginginkan khilafah itu tidak memaksa kok, khilafahnya saja belum ada masa dibilang memaksa. beda sama demokrasi yang sudah jelas ada dan sudah dipaksakan.
    “Masalah umat ini terlalu besar untuk hanya ditangani atau diatasi sendirian oleh PKS, HTI, NU, Muhammadiyah, INsists, dll”. kembali saya heran, siapa juga yang mengambil kesimpulan seperti ini? Ketika kaum muslimin berbicara khilafah berarti berbicara tentang kewajiban seluruh kaum muslimin bersama-sama. Dari mana pendapat yang disikapi Pak Ardian ini bahwa masalah umat bisa ditangani oleh satu ormas?
    “Kewajiban diantara kita adalah melakukan taushiyah, bukan saling mencerca dan saling membenci. Saya merasa dan mengakui, kadang terlalu sulit untuk berjuang benar-benar ikhlas karena Allah. Bukan berjuang untuk kelompok, tapi untuk kemenangan Islam dan ikhlas karena Allah. Wallahu a’lam bish-shawab. (adian husaini).” Maka dari itu Pak Adian mari kita saling menasehati bahwa khilafah itu kewajiban dari Allah SWT dan Rasul SAW bukan dari HTI, Khilafatul Muslimin, PKS, NU, Muhammadiyah, atau ormas yang lain sehingga kita ikhlas! Dan Allah telah memberi petunjuk kepada kita, kita laksankan kewajiban dan bertawakal kepada Allah. In syaa’ Allah khilafah akan segera hadir meskipun pendukung demokrasi menghalangi. Subi Harsono

  3. Dear Mr Subi, i think you’re missing the point here. Your response are flawed in many aspects, try to harness your argument to fewer issues rather than commenting on all aspect in articles. Should you feel fit to response, kindly send it to Mr Adian directly http://adianhusaini.com/ cheers😀

  4. Yang saya ga habis pikir,, kawan2 di HTI tidak pernah mau menerima kritikan dari saudara2 yang lain..
    ketika ada kritikan terhadap gerakan2 yang dilakukan oleh HTI, seketika itu juga kawan2 HTI langsung menjawab dalam bentuk pembelaan, seolah-olah yang memberikan kritikan itu memiliki pemahaman lebih rendah dari kawan2 HTI..
    itu yang saya saksikan selama ini, yang saya lihat, dan saya dengar..

    ——————-
    Mrs. Subi, kalau mau bicara adil,, Anda dan kawan2 HTI selama ini selalu berkoar-koar dan memburukan citra gerakan-gerakan islam lain yang tidak sepaham dengan Anda,.sedangkan gerakan islam yang lain hanya mmemberikan masukan dan pendapat saja terhadap gerakan Anda, tanpa menjelek-jelekan dan memberikan opini buruk terhadap Hizb anda…

    Jadi disini saya bisa mengmbil kesimpulan, bahwa “Anda dan kawan2 HTI hanya bisa MENGKRITIK dan menebarkan opini buruk (tidak sedikit fitnah) terhadap Hizb yang lain, tapi ANDA dan kawan HTI , TIDAK SIAP menerima kritikan dari orang lain”..

    apakah itu yang di contohkan oleh Rasul? saya rasa tidak…
    Hargai lah orang yang berpendapat tentang Hizb Anda, tidak perlu anda melakukan pembelaan dengan cara “menyerang balik” terhadap opini2 yang masuk untuk Hizb Anda dan membuat seolah-olah yang membuat opini tentang Hizb Anda ilmu nya lebih rendah dari Anda (itu yang saya amati selama ini), toh selama ini Anda dan kawan2 HTI juga selalu memberikan kritikan2..

  5. Reblogged this on everything in your mind and commented:
    “Sistem demokrasi ada yang bisa dimanfaatkan untuk dakwah, Karena adanya kebebasan berpendapat. Maka, Hizbut Tahrir justru berkembang ke negara-negara yang menganut sistem demokrasi, seperti di Indonesia. Di AS, Inggris, dsb, HT lebih bebas bergerak dibanding dengan di Arab Saudi.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s