POSISI DAN EKSISTENSI KE-ORMASAN KAMMI


(Sebuah Catatan untuk Mempertegas Gerakan di Tengah Beragam Tarikan Kepentingan)

Oleh : Syamsudin Kadir *

Tak terasa hajatan akbar Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) telah digelar kembali; tepatnya sekitar pertengahan September 2006 beberapa waktu yang lalu di kota Mpek-mpek Palembang. Secara umum, harapan dari sebuah hajatan akbar sebuah organisasi mahasiswa yang cukup besar adalah bagaimana organisasi ini bisa mengkonstruk dirinya menjadi lebih besar. Besar dalam amal/kiprah perubahan bangsa, besar dalam memproduksi ide-ide dan kreasi yang segar dan tentu besar dalam membangun kepemimpinan di kalangan anak-anak muda. Dan secara khusus bagaimana organisasi ini bisa menyadari permasalahan dan kelemahan yang ada di dalam, untuk kemudian memformulasikan dalam sebuah tahapan pembangunan organisasinya. Akhirnya kebesaran di luar benar-benar ditunjang dan didukung oleh soliditas di dalam organisasinya.

Hampir dua tahun kepengurusan KAMMI Pusat menjalankan tugas dan amanahnya. Seiring pula dengan usia pertumbuhan organisasi yang sudah menginjak satu windu. Sebuah usia yang tidak bisa disebut muda, tetapi lebih tepat disebut memasuki tahap pematangan organisasi. Sehingga dengan usia sewindu ini, sudah seharusnya KAMMI melakukan penilaian/audit sosial mengenai sumbangsih/kontribusinya bagi penguatan barisan perubahan dan bagi perubahan bangsa kita sendiri. Sebagai salah satu elemen pergerakan bangsa, KAMMI tidak lepas dari tarikan – tarikan berbagai kepentingan – dengan beragam bentuk entitasnya. Sebenarnya tarikan-tarikan kepentingan itu bukanlah hal yang harus ditakutkan, sepanjang berorientasi pada pembangunan dan penguatan bangsa. Tapi justru dari sinilah kemudian munculnya tantangan bagi organisasi ini. Kata singkat yang mudah untuk menggambarkan situasi ini adalah “positioning”, artinya bagaimana KAMMI memposisikan diri di tengah beragam tarikan- tarikan kepentingan dari luar. Dan saya melihat pergulatan ini masih terus berlangsung sampai sekarang.


Menegaskan kembali Visi dan Misi Gerakan

Kalau boleh verbalkan secara sederhana, dalam dictum organisasinya, KAMMI menegaskan dirinya sebagai wadah perjuangan pemanen (organisasi yang harus eksis) yang akan melahirkan pemimpin masa depan yang tangguh dalam upaya mewujudkan masyarakat Islami di Indonesia. Melihat statemen visinya, maka setidaknya ada (tiga) aspek yang menjadi concern/perhatian dari organisasi KAMMI ini. Aspek pertama adalah organisasi yang solid. Sebagai sebuah wadah perjuangan maka akan menjadi sebuah hal yang mustahil ketika organisasi ini tidak menjadi organisasi yang solid. Soliditas organisasi bukanlah hanya dilihat dari jumlah jaringan cabang dan kader/anggota yang banyak, tapi juga bagaimana budaya/karakter dan berorganisasinya yang baik. Sehingga setiap dinamika di dalamnya mampu diakomodasi oleh budaya berorganisasi kadernya yang matang, selain juga yang mampu mewadahi setiap dinamika anggota-anggotanya. Aspek kedua adalah aktifitas yang berorientasi pada pembangunan dan pembentukan kepemimpinan anggotanya yang tangguh. Basis anggota KAMMI adalah mahasiswa. Dan status mahasiswa adalah status penjembatan sebelum seorang mahasiswa mengabdikan kapasitas ilmunya di masyarakat. Dan aspek ketiga adalah sebagai organisasi pengkaderan, maka bagaimana KAMMI mampu memberikan, menanamkan dan menumbuhkan intelgensia yang tidak diperoleh di lingkungan akademik kampus, seperti intelgensi, emosional, spiritual, artistic dan komunikasi. Sehingga setiap mahasiswa yang menjadi kader KAMMI, setelah keluar dari kampus, ia mampu melakukan pengorganisiran dan memimpin masyarakat. Sebagai pemimpin ia harus memeliki visi dan misi kepemimpinan, di mana hal ini bersumber dari kepemimpin yang kuat yaitu para Nabi dan Rasul, terutama Rasul Muhammad saw. Aspek ketiga adalah kontribusi pada pemecahan permasalahan ummat/bangsa. Di sini KAMMI menyatakan visinya sebagai bagian dari kontributor solusi atas berbagai permasalahan ummat. Ummat adalah bangsa dengan keragaman entitas politik, budaya dan keyakinan. Sebagai mahasiswa, maka di dalam kolektifitas kader-kader KAMMI tersimpan potensi intelektual yang terkandung dalam jiwa kaum muda. Dan sebagai kelompok pergerakan maka KAMMI senantiasa memiliki keresahan atas berbagai ketimpangan, ketidakadilan, penyelewengan dan kesewenangan yang terjadi di bangsa ini, untuk kemudian berusaha untuk memberikan kontribusinya bagi solusi atas permaslahan ini. Aspek ini mensyaratkan adanya produktifitas ide, konsepsi dan agenda gerakan.
Ketiga aspek di atas adalah satu kesatuan yang tidak bias dipisahkan. Ketiganya saling terkait dan saling mendukung, memiliki hubungan kausalitas. Bahwa tidak mungkin KAMMI menjadi besar ketika organisasi ini tidak mampu mencetak kader-kader yang memiliki kualitas dan kapasitas kepemimpinan, namun kepemimpinan yang berkapasitas akan kandas ketika tidak terbangun organisasi yang solid. Dan apalah artinya sebuah pergerakan (dakwah) kalau tidak ada ekses dan pengaruh bagi perbaikan ummat, karena pergerakan KAMMI adalah bagaimana membumikan nilai-nilai Islami di tengah-tengah bangsa ini.

Menegaskan kembali posisi ke-Ormasan KAMMI

Kalau kita membaca kembali sejarah terbentuknya KAMMI, maka entitas organisasi ini tidak lepas dari bagaimana kalangan aktifis mahasiswa yang berbasis di masjid kampus merespons situasi di luar kampus, terutama yang terkait dengan pergulatan politik di sekitar kekuasaan Orde Baru yang makin rapuh. Setelah jatuhnya Suharto yang menjadi pemimpin Orba oleh geakan Reformasi pada Mei 1998, KAMMI kemudian mengkonsolidasikan diri dalam wadah organisasi kemasyarakatan pemuda yang berbasis mahasiswa. Gerakan penuntasan agenda Reformasi menuntut KAMMI lebih mengeksiskan dirinya di gerakan jalanan. Hingga secara langsung atau tidak KAMMI membuat garis batas yang cukup tajam dengan pemerintah, artinya KAMMI senantiasa cenderung melihat sesuatu secara hitam putih, sering mengedepankan apriori terhadap pihak di luar KAMMI. Pada titik inilah kemudian agenda pembangunan karakter KAMMI sebagai sebuah organisasi kemasyarakatan cukup terabaikan. Dan eksesnya adalah KAMMI sering terjebak dalam “kesendirian” gerakan. Terlebih lagi situasi ini masih terjadi di struktur KAMMI pada level Pusat maupun Daerah, bahkan Komisariat. Sewindu usia organisasi bukanlah usia yang masih boleh dibilang muda. Secara internal KAMMI merupakan organisasi dengan kecepatan pergantian yang cukup signifikan. Di tingkat pusat telah terjadi 8 (delapan) kali pergantian kepemimpinan pusat, artinya rata- rata kepemimpinan pusat adalah 1 (satu) tahun. Meskipun lamanya kepengurusan adalah 2 (dua) tahun. Artinya dinamika kepemimpinan pusatnya sangat tinggi. Akan tetapi dinamika yang begitu tinggi di Pusat tidak begitu berpengaruh terhadap Daerah ataupun Komisariat. Hal ini tidak lepas dari struktur organisasi KAMMI yang sudah rigid, di dukung karakter kader yang lebih mengedepankan kontribusi dari pada “jabatan” ank e ral organisasi.
Kondisi di atas masih menegaskan bahwa culture (budaya) organisasi KAMMI masih kental sebagai sebuah kesatuan (jaringan) aksi. Kondisi ini bukanlah kondisi yang buruk, jika dinamika ummat di luar organisasi ( ank e eksternal) tidak memberikan pengaruh. Faktanya dinamika eksternal sering memberikan pengaruh, meski dengan intensitas yang berbeda-beda. Sementara itu, situasi eksternal makin kompleks. Dikotomi kelompok ORBA dan yang bukan makin bias, artinya pemetaan dalam gerakan makin berkembang (atau makin rumit). Kebebasan berserikat dan berbicara sudah bukan monopoli gerakan mahasiswa lagi, karena saluran aspirasi sudah begitu banyak dan terbuka (partai politik, ormas, asosiasi, LSM, pers, dan lain-lain). Dan yang paling menonjol adalah makin meningkatnya kompleksitas kepentingan politik. Situasi ini menimbulkan tarik-menarik kepentingan – yang secara langsung atau tidak, selalu berusaha menarik gerakan mahasiswa untuk masuk ke dalam kancah kepentingan ini. Sehingga, dalam hal perbaikan organisasi Kammi saat ini, pada prinsipnya adalah bagaimana mempertahankan kelebihan yang ada dan memperkuat kelemahan yang ada. Dan melihat bagaimana KAMMI berdinamika saat ini menunjukan belum kentalnya karakter sebagai sebuah organisasi kemasyarakatan pemuda/OKP – mahasiswa. Memang benar KAMMI adalah organisasi berbasis mahasiswa yang tetap melakukan kritik dan oposisi terhadap kebijakan yang tidak berpihak kepada masyarakat, tetapi sebagai sebuah OKP KAMMI sudah seharusnya membuka diri untuk berkomunikasi dengan semua elemen masyarakat, menghilangkan apriori dan tidak melihat secara hitam putih. Penegasan KAMMI sebagai sebuah OKP sebenarnya bukanlah hal baru, tetapi telah lama dijadikan keinginan para founder KAMMI dalam Muktamar yang pertama. Akan tetapi agenda pemantapan KAMMI sebagai sebuah OKP belumlah menjadi wacana serius di kalangan aktifis KAMMI. Karena itu penguatan KAMMI dari sisi ke-OKP-an diharapkan bisa memperkuat posisi KAMMI dalam dinamika perubahan bangsa ini. Bahwa siapapun menjadi teman sekaligus sebagai musuh, akan tetapi akan lebih baik jika semua dijadikan teman meski kecil sekali keuntungannya bagi kita. Sepanjang masih diajak tersenyum, maka dia adalah potensial ‘pahala’ bagi Gerakan kita saat ini dan ke depannya; semoga !

‘Halaqoh : Cerdas Berpikir, Tuntas Bergerak’

*Anggota Biasa 2 (Staf) KAMMI Daerah Bandung /Peserta Muktamar V KAMMI 12-17 Sepetember 2006 di Palembang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s