Nasionalisme dan Ideologi Islam


Nasionalisme dan Ideologi Islam
oleh : Syamsudin Kadir*

Akar nasionalisme

“Kami hanya mengikuti warisan nenek moyang kami!” demikian celoteh bangga umat Nabi Shaleh. “Bangsa Aryan adalah pilihan para dewa”, teriak Shah Iran. “Kehadiran negara Jerman raya adalah kemestian sejarah, sebab hanya bangsa ini saja yang layak memimpin dunia!” Demikian Hitler berslogan dalam Mein Kampf. Cukup idiomatik. Persis sesamanya – di mana semua ucapan di atas adalah bersumber dari rasa kebanggaan primordialisme bangsa dan ras yang akhirnya membawa kepada legitimasi, dominasi dan kuasa mutlak bangsa ke atas suatu bangsa lain.

Puncaknya, karena kesukaran mereka untuk melepaskan diri dari tradisi leluhur. Buat mereka, inilah nasionalisme tulen dan inilah juga patriotisme yang tuntas. Sebaliknya hakikat yang bersemi, menunjukkan nasionalisme mempunyai penafsiran yang berbeda, malah lebih organik sifatnya. Malah, dalam mendefinasikan nasionalisme, kita seharusnya tidak terperangkap dengan istilah patriotik, karena makna patriotik hanya terbatas dalam manifestasi diri terhadap negara melalui sebarang perlakuan, pengungkapan, penulisan dan ekspresi diri.


Manakala nasionalisme pula dimaknai sebagai emosi individu atau publik di atas satu landasan persaudaraan terotikal, historikal, bahasa dan cita-cita unggul di atas prinsip moral dan politik demi membela kepentingan negara-bangsanya. Daripada dua gambaran perbedaan inilah, nyata sekali antara nasionalisme dan patriotisme adalah pemikiran yang membawa kefahaman yang berlainan, namun tidak di dapat dinafikan ia mungkin ada beberapa titik persamaan.

Di dalam dunia hari ini, apabila kita merujuk kepada kelahiran sebuah negara melalui pengobaran semangat nasionalisme, ia adalah berkait rapat dengan kelangsungan lima teori utama dalam proses pembinaan sebuah negara. Ini termasuklah, teori semulajadi (natural theory), teori ketuhanan (divine theory), ketuanan raja (divide right of king), kontrak sosial (social contract) dan teori kekerasan (hardliner theory). Kelima-lima kategori ini secara tidak langsungnya telah membantu kita untuk mengklasifikasikan corak pemerintahan sebuah negara-bangsa yang ada. justru, dalam rangka kita untuk menjejak akar nasionalisme, seharusnya kita menghimbau kembali intipati era renaissance, karena di sana ada beberapa faktor rinci yang telah mencetus dan merangsang ideologi nasionalisme dalam bangsa Eropa serta dunia secara amnya.

Pertama, jatuhnya hukuman pembakaran hidup-hidup ke atas Rektor Universiti Praha (Prague), John Hus di Konstanz ( Konstaz adalah satu daerah di perbatasan antara Switzeland dan Jerman).

Kedua, tercetusnya perperangan Hussenitz di Bohemia dan Moravia sehingga membangkitkan semangat nasionalisme di kalangan rakyat Czech. Perlu diketahui, perperangan Hussenitz ini tercetus ekoran reaksi amarah rakyat Czech terhadap pembunuhan John Hus.

Ketiga, kelahiran gerakan reformasi pimpinan Martin Luther yang lantang mengkritik kebobrokan institusi gereja Katolik. Dan kelima, terdapatnya terjemahan kitab Bible dalam bahasa Jerman sehingga ia menerbitkan rasa keunggulan bangsa Aryan di dalam rakyat Jerman.

Maka daripada kelima-lima faktor ini, maka dapatlah kita rumuskan bahwa nasionalisme adalah ideologi yang bermuara di Eropa ketika era renaissance di mana salah satu objektifnya asalnya adalah untuk menanamkan kesadaran nasional di kalangan rakyatnya yang telah sekian lama ditindas dan dizalimi. Rousseau, salah seorang pemikir revolusi Perancis contohnya, ketika berbicara mengenai kedaulatan rakyat, seringkali beliau menekankan pentingnya penyuburan ideologi nasionalisme karena baginya, inilah ideologi yang menjadi sumber kebangkitan masyarakat. dampak daripada seruan demi seruan oleh Rousseau dan juga Voltaire, ideologi nasionalisme akhirnya berhasil menjelmakan revolusi Perancis dan seterusnya membuka era pencerahan (englightment) di seluruh benua Eropa. justru itu, nasionalisme yang pada peringkat permulaan seruannya adalah di asaskan dari hasrat murni ke arah mencapai; Liberte (kebebasan), Equalite (persamaan) dan Fraternite (solidaritas)!

Sementara itu dalam sejarah Islam, ideologi nasionalisme mula menyerap masuk ke dalam pemikiran ummah ketika penghujung era kekuasaan Ottoman yang ketika itu di bawah kepimpinan Sultan Abdul Hamid II di Turki. Ketika ini, kekuasaan Ottoman sedang menghadapi krisis dalaman yang kronik di serata tanah naungannya (Hamid Enayat 2001: 171). Dalam keadaan inilah, negara Barat (seperti Britain dan Perancis) telah bijak mengambil kesempatan dengan menggalakkan pembentukan pergerakan-pergerakan yang berunsurkan nasionalisme di samping coba untuk membudayakan sistem kepartaian di tanah air muslim. Selain bertujuan untuk memusnahkan kekuasaan terakhir dalam sejarah Islam itu, tindakan Barat ini juga bertujuan untuk memisahkan-misah tanah air Islam kepada sekte-sekte bangsa yang tertentu.

walhasil, daripada kuatnya pengaruh ideologi nasionalisme yang disemarakkan oleh Barat ini, maka lahirlah pergerakan yang dinamakan seperti al-Fatat (pertubuhan untuk membahagikan negara-negara di bawah naungan kekuasaan Ottoman) dan al-Ahd (pergerakan nasionalis Arab). Kita sebenarnya tidak perlu melihat jauh untuk membuktikan hidden agenda Barat dalam menyebarluaskan ideologi nasionalisme di kalangan tanah air muslim. Satu contoh yang terkenal dalam sejarah Islam dan Arab adalah; bagaimana British telah membantu secara ekonomi dan politik terhadap perjuangan Syarif Husain di Hijaz supaya mereka bangkit memberontak terhadap kekuasaan Ottoman yang berpusat di Turki. Dalilnya cukup mudah; masyarakat Arab telah sekian lama di zalimi oleh kekuasaan Ottoman dan kini tibalah detik perjuangan pembebasan mereka.

Maka, bertitik tolak dari gambaran inilah, terbukti bahwa niat murni di awal kelahiran ideologi nasionalisme di negara-negara Eropa, akhirnya ia telah disalahgunakan di dunia Islam – semata-mata untuk memisahkan tanah air muslim kepada etnik-etnik induk seperti; Arab, Turki, Parsi dan Kurd. Antara nasionalisme Barat dengan Timur Apa perbedaannya, antara Jose Rizal dengan Adolf Hitler? Atau, antara Umar Mukhtar dengan Mossoulini? Juga, antara Bhagat Singh dengan Winston Churcill? Walhal kedua-duanya adalah berjiwa nasionalis sejati pada kacamata rakyatnya! justru, dalam meleraikan persoalan di atas, kita boleh menyoroti sejauh mana tokoh-tokoh ini memaknai nasionalisme menurut mazhab kebenaran, kebebasan dan keadilan. Hitler, Mossoulini dan Churcill merupakan karekter kelahiran Barat yang berjiwa nasionalis dalam versi; menaklukkan dan memperluas tanah jahahannya. Sebaliknya Rizal, Mukhtar dan Bhagat pula adalah nasionalis Asia yang berjuang demi untuk membebaskan tanah airnya daripada cengkaman para imperialis. Mereka-mereka ini bernuasa dari dua aliran pemikiran yang berbeda dan dari dua benua yang berbeda. Masing-masing adalah oposisi sesamanya. Jadi, antara mereka, inilah asas ketara perbedaan nasionalisme Barat dengan Timur.

Beda pada pemaknaannya. Kedatangan Barat ke Timur telah memprofil nasionalisme ke dalam beberapa ciri. Di antara dua ciri utamanya adalah; imperialisme dan koloniolisme. Dan, terdapat tiga tujuan imperialisme menurut rencanaan Barat yaitu; misi menyebar ideologi, kebudayaan dan agama, mengeksplotasi sumber ekonomi Timur dan merebut kekuasaan ke sesuatu wilayah. Manakala kolonialisme pula membawa maksud yang lebih komprehensif di mana ia merupakan satu kekuatan menyeluruh; ekonomi, politik, sosial sebuah bangsa untuk menakluki bangsa yang lain di tanah airnya sendiri. Sebenarnya, sikap hagemoni Barat ini memang tidak perlu kita herankan. Mengapa? karena Barat ketika itu merasakan geografi negaranya kecil dan lantaran itu, mereka telah membuat keputusan untuk menjelajah dan mencari tapak-tapak baru di berbagai belahan dunia terutama di Timur bagi memperluas geografi kekuasaannya (Hashemi Rafsanjani 2001: 71). karena dorongan inilah, maka negara-negara Barat yang kecil seperti Portugal, Sepanyol dan Belanda mampu untuk menaklukkan negara-negara di Asia Pasifik yang luas semata-mata untuk menyempurnakan agenda imperialisme; keagungan misi kebangsaan, memanipulasi kemakmuran ekonomi Timur dan mendominasi sebuah wilayah sebagai tanah jajahannya. Ironinya, tatkala era kolonialisme sepatutnya telah berakhir, dunia kini masih meneruskan rentetan kolonialisme dengan kemunculan neo-kolonialisme yang membawa misi penjajahan baru terhadap negara miskin dan negara membangun.

Pengamalan neo-kolonialisme oleh Barat ini tidak lain dan tidak bukan, merupakan nestapa baru bagi umat manusia yang konon di katakan telah bertamadun. Benarlah apa yang dirintihkan oleh Chairil Anwar, pujangga nasionalis Indonesia sekali berarti, sesudah itu mati (Khalid Jaafar 2003: 132). Manakala dalam membicarakan mengenai perjuangan nasionalisme di Timur ia lebih menjurus kepada perjuangan rakyat untuk membebaskan tanah airnya dari cengkaman penjajah. Bangsa-bangsa di Timur telah melahirkan satu sikap penentangan dan anti-penjajahan Barat. Mungkin tidak dapat di nafikan dalam satu aspek yang berbeda, antara sumbangan besar imperialisme Barat adalah, mereka melahirkan pahlawan-pahlawan Asia seperti; Jose Rizal, Umar Mukhtar, Daud Berueh, Bhagat Singh, Mahatma Gandhi dan Ahmad Boestamam.

Namun begitu, di balik kecaman keras kita terhadap Barat angkara penindasannya yang dilakukannya, sebenarnya terdapat juga tindakan mirip Barat dari kalangan negara-negara Asia sendiri. Jepang misalnya, telah menaklukkan hampir satupertiga negara-negara Asia semasa Perang Dunia Kedua sebelum ia ditundukkan oleh Amerika Syarikat selepas gugurnya bom Atom di Hiroshima dan Nagasaki. Sama seperti Barat, keinginan dan rencana Jepang ketika itu adalah terbit daripada fanatik nasionalismenya yang cukup tinggi untuk menaklukkan seluruh Asia. Di samping itu, bagi tentera dan rakyat Jepang, ketaatan kepada maharaja dan pemerintahnya adalah kemuncak pengabdian seorang rakyat terhadap pemerintah serta lambang kesempurnaan nasionalismenya.

Begitu juga dengan China. Mao Zedong, pemimpin revolusi rakyat China, adalah pemimpin yang coba untuk merealisasikan ketetapan dasar luar – satu china. Implikasi dari dasar ini, maka negara teologi Tibet yang dipimpin oleh Dalai Lama telah diserang dan ditakluk oleh China meskipun kedua-dua negara tersebut berbeda perjalanan sejarahnya.

Dalai Lama pemimpin agung Buddha Tibet secara monarkinya telah sekian lama memimpin masyarakat Tibet dengan penuh keharmonian dan keamanan. Kendatipun begitu, dengan kehadiran tentera rakyat China, Tibet telah menjadi medan pertempuran yang tidak berkesudahan hingga kini! Jadi, di sebalik kezaliman Barat yang jelas terpapar, sebenarnya turut terselit segelintir bangsa Asia yang menganut fahaman nasionalisme menurut versi Barat. Kesantunan Asia yang di kagumi oleh masyarakat dunia akhirnya tercemar dek keangkuhan dan kebanggaan yang ekstrim terhadap status bangsanya.

Nasionalisme dalam perspektif Al-Banna, Khomeini, An-Nadawi Imam Hassan Al-Banna, adalah pengasas pergerakan Ikhwanul Muslimin. Beliau pernah merasakan hidup derita di bawah penjajahan Barat. Maka bertitik tolak kondisi demikian, wujud semacam perasaan revolusioner dalam dirinya untuk membebaskan Mesir dari belenggu penjajahan British. Lantas, melalui Ikhwanul Muslimin, beliau menyemarakkan semangat nasionalisme di kalangan rakyat Mesir untuk bangkit mencantas kolonialisme British melalui usaha diplomatik dan berbagai siri demostrasi di atas berbagai isu seperti; konflik Palestin-Israel, eksploitasi terusan Suez dan pengaruh budaya Barat yang kian menular di sekitar Kaherah. Alternatif dari moqawama (penentangan) Al-Banna adalah bertujuan untuk menegakkan negara Islam dengan tiga teras kenegaraannya; tanggungjawab pemerintah melindungi kepentingan rakyat, wehdatul ummah dalam ikatan keagamaan dan penghormatan hak rakyat oleh pemerintah. Inilah tiga tawaran Al-Banna dan Ikhwanul Muslimin kepada rakyat Mesir bagi mengantikan sistem penjajah yang diamalkan oleh monarki Mesir pada ketika itu (Siddiq Fadhil 1999: 14). Di sepanjang liku kehidupannya, Al-Banna telah memperlihatkan kematangan dan kebijaksaan sebagai seorang pemimpin besar. Beliau adalah pemimpin yang dilahirkan untuk ummah (born for Ummah). Di waktu memuncaknya ideologi nasionalisme di Mesir, Al-Banna dengan pintar telah mengadunkan ideologi tersebut dengan Islam. Tanpa menolak nasionalisme secara total, Al-Banna menampilkan corak nasionalisme yang berorientasikan kepada kebanggaan terhadap prestasi cemerlang generasi silam, dengan hasrat untuk meneladani kejayaan terdahulu. Pemaknaan nasionalisme demikian dinamakannya sebagai Qawmiyyat al-Majd (nasionalisme keagungan). Manakala, Al-Banna menolak pemikiran nasionalisme dalam arti kata yang mendukung pemugaran budaya pra-Islam sebagaimana langkah kaum nasionalis sekular di Turki yang telah menghapuskan segala simbol dan identiti yang bersifat keislaman pasca kejatuhan kekuasaan Ottoman. Inilah nasionalisme yang diistilahkan oleh beliau sebagai Qawmiyyat al-Jahiliyyah (nasionalisme al-jahiliyyah) yang sewajarnya dihindari oleh setiap muslim (Siddiq Fadhil 1999: 15).

Dalam pemikiran Ruhollah Khomeini, pendiri Republik Islam Iran, nasionalisme telah diketengahkan oleh beliau dalam metode yang logikal dan islamik. Beliau menyifatkan kecintaan terhadap watan (tanah air) serta mempertahankan keutuhan negara adalah sesuatu perkara yang boleh diterima (Kalim Siddiqui, 1985: 21). Namun, bagi beliau nasionalisme yang mendorong kepada permusuhan antara negara-negara Islam adalah perkara yang berbeda perspektifnya (mungkin ucapan beliau ketika ini merujuk kepada tercetusnya perperangan Iran – Iraq yang digelarnya sebagai perperangan yang di paksakan dan perperangan yang diplot oleh Barat untuk memusnahkan revolusi Islam Iran). Di samping itu, Khomeini dalam merumuskan penolakan terhadap versi nasionalisme Barat, menyifatkan nasionalisme seupama ini boleh mengundang permusuhan antara masyarakat Islam serta mengugat perpaduan ummah. Selain daripada itu, nasionalisme seperti ini jelas bercanggah dengan ajaran Islam serta aspirasi ummah itu sendiri. Umat Islam pada anggapan beliau, mampu untuk berdiri sendiri tanpa bergantung dengan mana-mana kekuatan maupun mana-mana ideologi (Kalim Siddiqui 1985: 22). Antara bukti ketegasan dan keyakinan Khomeini adalah melalui pelaksanaan polisi luar Tehran yaitu; la syarqiah, la gharbiyah, jumhuriyyah Islamiyyah (tidak Timur, tidak Barat, tetapi revolusi Islam).

Manakala, dimensi pemikiran Sayyid Abul Hasan Ali An-Nadawi mengenai nasionalisme lebih radikal namun masih tetap menarik untuk ditelusuri. Dalam adikaryanya Maadza khasiral aalam, Binhithatil muslimin (derita dunia bila Islam mundur), beliau telah membentang secara panjang lebar mengenai bahaya ideologi nasionalisme. Menurut An-Nadawi, berkembangnya fanatik nasionalisme di Eropa adalah dipengaruhi oleh pembagian dua belahan dunia; Barat dan bukan Barat. Jadi, dengan memisahkan dunia kepada dua belahan, maka ia telah mewujudkan dua kelas manusia; kelas mulia dan kelas hina, kelas tinggi dan kelas bawahan. Tanggap An-Nadawi lagi, corak pemikiran ini merupakan lanjutan daripada pemikiran yang dianuti oleh kaum Yahudi yang mana mereka melabelkan manusia selain bangsanya sebagai goyim.

Waima, apa yang dikesalkan oleh An-Nadawi adalah sikap fanatik nasionalisme ini akhirnya telah berhasil menyerap masuk ke dalam pemikiran umat Islam. Pada An-Nadawi, pudarnya penghayatan Islam di kalangan negara-negara Islam merupakan faktor utama yang mendorong penularan fenomena ini. Bahkan tambah An-Nadawi lagi, negara-negara Islam ini tampaknya lebih terpesona dengan idea nasionalisme menurut versi Barat yang konon didakwa mampu memodenkan sebuah negara (Abul Hasan An-Nadawy 1986: 202). . An-Nadawi tidak meninggalkan kenyataan ini tanpa pembuktian. Beliau membawa contoh mengenai kebangkitan golongan Turki Muda yang telah bersengkokol dengan Mustafa Kamal Attaturk untuk mengulingkan kekuasaan Ottoman (Abul Hasan An-Nadawy 1986:199). Golongan Turki Muda inilah yang menjaja ideologi nasionalisme bagi mengantikan gagasan pan-Islamisme. Mengenang peristiwa inilah, An-Nadawi memperingatkan kita dengan memetik rakaman al-Quran dalam surah al-Hasyr: 16 yang bermaksud; pujukan orang-orang munafik itu adalah seperti pujukan syaithan, ketika dia berkata kepada manusia: kafirlah kamu, maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata: sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu.

Keseluruhan pemikiran An-Nadawi tentang nasionalisme ini seolah-olah mengajak kita untuk menolak nasionalisme secara total dengan menawarkan Islam sebagai jalan penyelesaian mutlak – dalam sebarang pemasalahan manusia. Pada beliau, nasionalisme tidak lebih sebagai propaganda ciptaan Barat untuk melambatkan kebangkitan Islam yang telah dijanjikan. Dikotomi Islam – nasionalisme dalam pemikiran Dr. Burhanuddin al-Helmy Dr. Burhanuddin Al-Helmy adalah sosok yang paling layak untuk di amati, andainya kita memperkatakan mengenai dikotomi Islam dan nasionalisme.

Pemikiran politik beliau sentiasa menekankan tiga aspek terpenting dalam perjuangan beliau yaitu; kemerdekaan, kebangsaan Melayu dan Islam (Kamarudin Jaafar 2000: 9). Hujah yang beliau kemukakan sebagai sandaran adalah; kasihkan watan itu adalah bagian daripada iman dari untaian hadist Rasulullah saw. Dalam rangka untuk menyoroti lebih mendalam pemikiran tiga dimensi beliau ini, hendaklah kita himbau kembali penegasan yang pernah dibuatnya dalam tulisan beliau yang bertema Perjuangan Kita; Iman berdiri di atas tubuh. Tubuh berdiri di atas bangsa dan bangsa berdiri di atas watan. Salah satu daripada yang empat ini tiada boleh bercerai tinggal dalam binaannya tetapi watan jadi pokok. Ada watan adalah dengan kuat bangsa. Kuat bangsa keluar dari tubuh diri yang sihat kuat dan perkasa seperti pekerja, pahlawan, prajurit dan lain-lain. Maka dalam jiwa pekerja pahlawan prajurit itulah terletaknya iman (Kamarudin Jaafar 2000: 48).

Apa yang terserlah di sini, Dr. Burhanuddin coba untuk menyelesaikan dikotomi antara Islam dan nasionalisme dengan mencorakkan perjuangan nasionalisme sebagai bagian daripada elemen perjuangan Islam. Pemikiran progresif Dr. Burhanudin ini sebenarnya setaraf dengan pemikiran pemimpin pemimpin kemerdekaan di Asia pada ketika itu seperti Mahathma Gandhi, Sukarno dan Sir Muhammad Iqbal. Mungkin persamaan ini terbentuk karena pengaruh pendidikan Dr. Burhanuddin yang pernah menuntut di India. Semasa beliau menuntut di Ismaeliah Medical College dan Aligarh Muslim University, beliau berkesempatan untuk mengikuti dan mendalami doktrin perjuangan Gandhi, Ali Jinnah dan Jawaharlal Nehru untuk beliau menyesuaikan nasionalisme mereka dengan corak perjuangan di Tanah Melayu, sekembalinya nanti.

Namun begitu, perlu ditegaskan disini bahwa perjuangan kebangsaan Melayu Dr. Burhanuddin bukanlah berniat untuk menindakkan hak-hak etnik lain untuk hidup harmoni di Tanah Melayu. Sebagai pemimpin yang bersifat negarawan, beliau tidak mennampakkan dirinya sebagai pemimpin cauvinis yang ekstrim ataupun assabiyyah sebagaimana yang diwar-warkan oleh musuh politik beliau. Pendirian beliau ini ditegaskan dalam tulisannya yang bertema Falsafah Kebangsaan Melayu; Kita hendak mendirikan negara kebangsaan Melayu di atas dasar kebangsaan, menurut keadilan dan kemanusiaan yang luas sama berhak dan adil, bukan sesekali kebangsaan yang sempit, jauh sejauh-jauhnya dari berbau perkauman dan perasaan yang kolot dan kuno (Kamarudin Jaafar 2000: 110). Dalam sisi Islam pula, Dr. Burhanuddin melihat nasionalisme sebagai wasilah (alat) bukannya ghayah (matlamat).

Menurut beliau, nasionalisme mengambil posisi selunak yang mungkin serta menjadi lambang yang boleh menggembleng segala kekuatan ummah demi mencapai cita-cita mulia yang luhur dan abadi.

Dalam Falsafah Kebangsaan Melayu, – sesudah memetik surah al-Hujurat: 13, sambil menafsir ayat tersebut – beliau merintih, apalah artinya perkenalan jika tidak terlebih dahulu terdiri kekuatan kaum dan bangsa yang hari ini dikenal dengan kebangsaan itu dengan suatu kebangsaan yang lain (Kamarudin Jaafar 2000: 95). Bagi menjawab berbagai tuduhan dan tohmahan pemerintah Tanah Melayu dan pihak penjajah, Dr. Burhanuddin dalam ucapan beliau sebagai Yang Dipertua PAS ketika muktamarnya pada tahun 1957 telah mengungkapkan dengan penuh bersemangat tentang pendiriannya, sesungguhnya saya dan pihak partai Islam tidaklah berbau komunis dan imperialis, saya dan PAS adalah berisi, bersifat, berbau kebangsaan Melayu dengan cita-cita Islam (Kamarudin Jaafar 2000: 18).

Sejarah menyaksikan, dengan kenyataan tegas Dr. Burhanuddin ini, beliau telah membuktikan bahwa dirinya adalah antara tokoh yang banyak berjasa demi melihat Tanah Melayu hidup aman, makmur dan harmoni sebagaimana yang diimpikannya. Mudah-mudahan pengorbanan suci beliau ini, dinilai secara adil oleh generasi selepasnya. Dinamika Nasionalisme dalam era globalisasi Ciri globalisasi yang instantness telah menjelmakan satu fenomena baru yang sangat kompleks. Muktahir ini, memang tidak dapat dinafikan bahwa kehadiran globalisasi telah memberikan dampak besar kepada ideologi nasionalisme yang meluas dipraktikkan di kebanyakan negara-bangsa pasca Perang Dunia ke-II. Kenichi Ohmae pernah menyatakan bahwa masa depan negara-bangsa laksana dinasour yang sedang menanti kunjungan ajal. Begitu juga Daniel Bell dalam bukunya The end of idealogy yang di terbitkan puluhan tahun sebelum tamatnya era perang dingin – di mana zaman ideologi-ideologi bersaing merebut pengaruh masing-masing – telah membentangkan pandangannya bahwa persaingan ideologi sudah tidak relevan lagi dengan peredaran zaman termasuklah juga ideologi nasionalisme.

Apakah yang mendorong pemikir-pemikir ulung ini berteori sedemikian? Tidak lain, karena wujudnya paradoks antara arus sejagat dengan ideologi-ideologi, termasuklah ideologi nasionalisme. Dalam membahas persoalan rumit ini, kita perlu menyedari bahwa posisi nasionalisme dalam arus globalisi telah dipolarisasi kepada dua situasi; nasionalisme di negara maju (baca: Barat) dan nasionalisme di negara membangun (baca: negara-bangsa). Sejak dua dekad lalu, globalisasi telah membentuk jurang yang tidak adil atau bias kepada kelompok negara-bangsa yang kebanyakan terdiri daripada negara-negara membangun.

Hal ini terjadi karena negara-negara maju telah mengeksploitasi daya kekuatan ekonominya melalui sistem pengantarbangsaan ekonomi ke arah merealisasikan misi neo-kolonialisme mereka. Susulan daripada eksplotasi inilah yang menyebabkan pengaruh ideologi nasionalisme mula terancam kalangan negara-bangsa. Di samping itu, wujud juga di kalangan elit ekonomi dan politik sesetengah negara-bangsa yang terbuai dengan retorika globalisasi cerminan Barat (Abdul Rahman Embong 2000: 76). Globalisasi kini telah menghakis emosi nasionalisme.

Dengan pengamalan sistem laissez faire di kebanyakan negara-bangsa, kekayaan negara dan kuasa membeli rakyat menjadi rebutan Barat. Dewasa ini, persoalan kekentalan nasionalisme di kalangan rakyat negara-bangsa mula diperdebatkan. Masakan tidak! Rakyat negara-bangsa kini lebih memuja produk Barat sambil memperlekehkan produk nasionalnya. Ya, mungkin salah satu faktor yang mendiskreditkan nasionalisme adalah kualitas produk nasional, dimana produk nasional jelas gagal bersaing dengan produk Barat – dalam mayoritas aspek. Rentetan daripada situasi ini, nilai-nilai nasionalisme di kalangan rakyat negara-bangsa secara tidak langsungnya turut terhakis sekali. Maka tidak dapat dielakkan lagi, bahwa nasionalisme mula dihimpit oleh arus globalisasi.

Jadi, inilah tantangan yang perlu ditangani oleh nasionalisme. Tidak mustahil jika fenomena ini makin rancak dan berkelanjutan, maka ideologi nasionalisme boleh terkubur ditelan arus globalisasi yang diprakarsai oleh Barat. Bertolak dari kesadaran inilah, maka perlu tampil satu resolusi yang tegas dan jelas sebagai mempertahankan eksistensi negara-bangsa yaitu; Islam! Jawaban Islam ! sementara kita membahas mengenai ideologi nasionalisme dalam berbagai konteks; Barat dan Timur, sorotan pemikiran dari tokoh tersohor dan fungsinya dalam arus globalisasi, maka ia menyakinkan kita bahwa ideologi nasionalisme bukanlah penyelamat tunggal kepada kemanusiaan dunia. Bagi Kalim Siddiqui (1985: 1), nasionalisme tidak lebih sebagai doktrin politik yang menyerang umat Islam dalam tempoh 100 tahun terakhir ini.

Jadi, apa jawaban Islam terhadap nasionalisme? Menolak nasionalisme; membentuk gerakan Islam di seluruh dunia! Tegas Siddiqui. Dan, kini, sudah tiba saatnya, bagi umat Islam menyakini akan kemampuan Islam dalam mengurus kehidupan di samping mengikis rasa hormat yang tinggi terhadap Barat. Sungguhpun melangit tinggi keinginan kita untuk melakukan tranformasi total ini, namun masih adalah kriteria yang perlu dilengkapi sebelum hasrat kita dapat direalisasikan. Menurut Siddiqui lagi, dunia Islam dan dunia seluruhnya memerlukan seorang pemimpin yang bersifat inklusif, global dan berwibawa.

Hanya dengan lengkapnya syarat ini saja untuk membolehkan dunia menjadi satu negara-bangsa saja (Kalim Siddiqui 1985: 16). Manakala Mohamad Abu Bakar (2000: 14) melihat orde Islam sebagai alternatif. Dengan melihat keutuhan negara-bangsa sebagai unit teras dan terpenting dalam pentas politik dunia, maka menurut beliau, sebarang perubahan drastik dan dramatis hanya boleh berlaku sekiranya pengglobalan nilai-nilai Islam yang memungkinkan orde Islam yang memerintah negara-bangsa dan dunia sekaligus.

Pada beliau, inilah keadaan final sebagaimana yang dimaksudkan oleh Hassan Turabi. Turabi menegaskan, jika kesemua pergerakan Islam menjadi negara Islam, maka imbangan antarbangsa akan turut berubah. solusinya, dunia Islam mesti berubah. Meskipun sejumlah besar anggota ummah dewasa ini berada dalam diaspora, namun peluang pengglobalan Islam untuk membesar tetap cerah – selagi ummah bergerak dalam homo islamicus (manusia Islam sebenar). Samada melalui idea Siddiqui maupun idea Turabi, masing-masing ada satu persamaan yaitu; keyakinan kepada kejayaan Islam seluruhnya.

Lantaran itu, campakkanlah segala akar umbi ideologi nasionalisme dari minda ummah dan marilah kita sama-sama gerakkan satu kekuatan raksasa; mensejagatkan Islam dalam kehidupan dunia. Biarlah dunia akan datang beroperasi dalam kerangka Islam. Percayalah, nun jauh di sana ada cahaya bagi kemenangan Islam bukan hanya kemenangan muslim semata-mata.

Rujukan
1.Abdul Rahman Embong. 2000. Malaysia Menangani Globalisasi, Peserta atau Pemangsa? Di sunting oleh Noraini Othman dan Sumit K. Mandal. Cetakan Pertama. Bangi, Selangor. Penerbit UKM.

2.Abul Hasan An-Nadawy. 1986. Apa Derita Dunia Bila Islam Mundur. Terjemahan H. Zubeir Ahmad. Cetakan pertama. Malaysia. Thinkers Library Sdn Bhd.

3.Ali Akbar Hashemi Rafsanjani. 2001. Keadilan Sosial: Pandangan islam tentang HAM, Hagemoni Barat & Solusi Dunia Modern. Diterjemahkan oleh Anna Farida. Cetakan Pertama. Bandung, Indonesia. Penerbit Nuansa.

4.Hamid Enayat. 2001. Modern Islamic Political Thought. Kuala Lumpur. Islamic Book Trust.

5.Kalim Siddiqui. 1985. Negara Nasionalisme Penghalang Pembentukan Ummah. Terjemahan Mahzan Ahmad. Cetakan pertama. Kuala Lumpur. Pustaka Al-Alami.

6.Kamarudin Jaafar. 2000. Dr. Burhanuddin Al-Helmy: Pemikiran dan Perjuangan. Cetakan Kedua. Kuala Lumpur. Penerbit Ikdas Sdn Bhd.

7.Khalid Jaafar. 2003. Tumit Achilles. Cetakan Pertama. Kuala Lumpur. Institut Kajian Dasar.

8.Prof. Madya Dr. Siddiq Faddil. 1999. Hasan Al-Banna: Kepoloporannya Dalam Gerakan Reformasi. Cetakan Pertama. Kuala Terengganu. Yayasan Islam Terengganu.

9.Prof. Madya Mohamad Abu Bakar. 2000. pengglobalan Islam dan Perpaduan Ummah: Menelusuri Politik antarbangsa Masa Kini. Cetakan Pertama. Kuala Terengganu. Yayasan Islam Terengganu.

*AB III KAMMI Bandung (UIN SGD Bandung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s