Menikah…


Segala puji bagi Allah yang telah memberiku karunia dengan hidup dibawah naungan Al-Qur’an dalam suatu rentang waktu, yang kurasakan nikmatnya, yang belum pernah aku rasakan sebelumnya dalam hidupku. Kurasakan nikmat ini dalam hidupku, yang menjadikan usiaku bermakna, diberkahi dan suci.
(Sayyid Quthb, Muqaddimah Zhilal)

Menikah…

Ada rasa senyap yang tiba-tiba menyergap kala kata ini harus hadir. Menghentakkan jiwa saat bertemu kembali dengan kilasan-kilasan itu, episode kehidupan.

Awal Ramadhan 1426, menjelang dini hari. Dengan didahului sujud panjang padaNya. Dengan seluruh kekuatan jiwa, ku eja kata itu dalam gelap, “Bismillah, InsyaAllah…”

“…barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya…” (At-Taghabun 11)

Rasa itu kembali menghentak saat bertemu kilasan sejarah, bergema keseluruh jiwa yang menyatu dalam gelora yang sama. Meneriakkan takbir. Berbaris bersama puluhan, ratusan, ribuan bahkan puluhan ribu manusia dijalanan panas Surabaya, Jogja, Bandung dan Jakarta. Aura serupa yang menggelora di medan jihad Afghan, Irak, Chechnya, Pattani, dan bumi suci Palestina. Dahsyat…

Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata./Adalah pengorbanan di setiap tepinya,

Rasa sepi semakin menyayat saat menatap jaket lusuh bertuliskan KAMMI di punggungnya. Jaket yang kembali mencuatkan sebuah episode hidup, di sekre perjuangan, dago atas. Diskusi-diskusi ‘nakal’ antara sosok-sosok yang marginal dan meletup-letup. Diskusi yang bahkan tak berani dibayangkan pernah terjadi antara orang-orang ‘suci’. Diskusi yang membangun jiwa, mengokohkan pemikiran dan menggebrak kesadaran. Dari Isya’ hingga dini hari menjelang. Tetapi seruan yang sama membentak, “Bangun!”. Dan berbarislah sosok-sosok itu, qiyamul lail. Beralaskan jaket yang sama.

Kutatap kembali jaket itu, dan ia semakin lusuh. Warnanya entah biru ataukah hijau. Tepi-tepinya telah lepas, resletingnya macet. Aku tak berani lagi memakainya. Jaket itu semakin lusuh, dan itu berarti aku semakin tenggelam pada ketiadaan.

Memutari ruangan yang lebih banyak berisi buku-buku terserak; Nietzsche, Habermas, Marx, Machiavelli dan Albert Camus. Tebaran buku dan coretan Che Guevara, Hegel dan Tan Malaka. Puisi-puisi Wordsworth, John Keats dan tentu saja aroma keabadian dari Sir Muhammad Iqbal. Dengan ‘beberapa’ buku-buku harakah tersimpan di bawah lemari.

Sikap yang kembali menggoreskan kenangan, “Akhi, untuk apa antum baca buku-buku seperti ini? Apa manfaatnya?” “Lho kan biar lengkap Akh. Nanti kalo nikah, akhwatnya buku-buku haraki, kitanya buku-buku ‘kiri’. Kan lengkap perpustakaannya.”

Episode-episode yang menggugah dan menyusun kepribadian. Lugas dan jujur dalam setiap plotnya. Episode yang menyusun pemahaman dan komitmen, fragmen demi fragmen.

Berdiri tegaklah di hadapan pintu Tuhanmu,//Tinggalkanlah yang lain./Mohonkan padanya selamat/Dari perdayaan negeri yang penuh fitnah ini

(Al Haddad)

Kita hidup di dunia yang tua, nyaris kehilangan nafas kehidupannya. Dunia yang lebih banyak menggambarkan kehilangan daripada harapan. Dunia yang meletakkan dominasi akal diatas cinta. Yang menggambarkan dualitas jiwa dan materi, melemparkan wahyu ke sudut peradaban.

Janganlah takjub terhadap barat ataupun timur.//Karena dunia lama dan baru ini,/Tidak sebanding dengan harga sebiji gandum

(Sir Muhammad Iqbal, Javid Nama)

Indonesia, sebuah negeri yang hiruk pikuknya justru berarti kegetiran. Negeri yang selalu menjadi anomali saat terjajar dengan negeri lain. Negeri yang menua dengan kelelahan dan tanpa masa depan. Dan nafasnya kini semakin berat…

Tapi tidak! Bukan berarti aku tak mencintai negeriku. Bahkan aku mencintainya lebih daripada sosok-sosok berlabel ‘nasionalis’ di Majelis Rendah itu! Aku mencintai Indonesia seperti Bilal saat mengenang Mekkah. Demikianlah Islam mengajariku mencintai negeriku, bahkan saat kutahu tiada satu alasan rasional pun yang bisa membuatku mencintainya.

Sungguh, telah kuteriakkan kegelisahan itu. Mengingatkan Indonesia bahwa ia telah rapuh dan kan terkeping-keping. Mengatakan padanya bahwa gemah ripah loh jinawi itu telah menjadi kosakata dongeng. Memintanya untuk taubat. Untuk bersujud. Untuk membumi bertemu dengan nurani ibu pertiwi. Untuk merendah bertemu dengan kuasa Allah. Indonesia – sungguh – telah kuminta untuk bersujud.

Tapi mungkin ia butuh masjid. Indonesia butuh masjid. Tempat ia bertafakur menemukan nurani. Menemukan Tuhan, menemukan akhlaq hidup bernama Islam.

…………//Ya Allah//Kami dengan cemas menunggu//kedatangan burung dara//yang membawa ranting zaitun.//Di kaki bianglala//leluhur kami bersujud dan berdoa.//Isinya persis doaku ini.//Lindungilah anak cucuku.//Lindungilah daya hidup mereka.//Lindungilah daya cipta mereka.//Ya Allah, satu-satunya Tuhan kami.//Sumber dari hidup kami ini.//Kuasa Yang Tanpa Tandingan//Tempat tumpuan dan gantungan.//Tak ada samanya//di seluruh semesta raya.//Allah! Allah! Allah! Allah!

(W.S. Rendra, Doa untuk Anak-cucuku, 1992)

Tapi bagaimanakah membangun masjid untuk negeri ini? Aku percaya bahwa cara terbaik adalah mengawalinya dengan membangun sarang. Dengan butir-butir, dengan batang-batang, dan dengan lembar daun-daun. Meski itu hanyalah rerumputan sederhana. Sarang ‘peradaban’ yang bermula shalat-sujud penyerahan dan pengorbanan. Sarang ‘perjuangan’ dengan awal sajadah terhampar. Sajadah cinta.

Dari sarang ‘peradaban’ inilah yang InsyaAllah kelak akan tercipta generasi baru. Masa depan Indonesia – bahkan umat manusia – adalah generasi ini. Generasi yang tumbuh dalam lingkungan kebaikan dan cinta, yang berhasil memenangkan kecenderungan kebaikannya (taqwa) atas ego kejahatannya (fujuur). Yang akan terus menerus tumbuh besar untuk menghadang angin. Terus menerus hingga angin kelelahan dan pulang.

Angin itu, Muhammad Quthb sebut sebagai kenyataan yang membuat kehidupan manusia akan tersusun atas keresahan, keraguan, atau kegelisahan. Kenyataan terus menerus yang katanya harus diatasi dengan “sarang” yang kokoh bernama keluarga bersama “teman” bernama pasangan hidup.

Maha Benar Allah yang berfirman:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu menemukan rasa tenteram, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa cinta kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”

(QS Ar Ruum 21)

Sarang ‘peradaban’ inilah yang melahirkan kekuatan maha dahsyat, kekuatan yang bisa memperbaiki -jika ia mau- atau menghancurkan sebuah bangsa. Sarang yang membuat Husain Muhammad Yusuf, dalam ahdaf al-usrah fil Islam, berani mengatakan bahwa inilah dasar dari sebuah negara, batu pertama untuk membangun negara. Ia melanjutkan dengan membahas betapa pentingnya keluarga ini, bahwa gambaran kekuatan yang dimiliki keluarga dan dalamnya fondasi nilai yang ada padanya, maka sejauh itulah gambaran moralitas dan kemuliaan bangsa tersebut. Inilah insfrastruktur utama masyarakat Islam dalam mengemban amanat istikhlaf – tugas-tugas kekhalifahan (Ismail Raji’ Al-Faruqi).

Sarang yang dimulai dengan shalat-sujud penyerahan, pengorbanan dan doa. Agar Allah berkenan menjadikan sarang ini lebih dari nilai materialnya, agar ia maujud menjadi madrasah peradaban. Dengan awal sajadah terhampar. Sajadah cinta.

“Sesungguhnya rasa kasih sayang itu datang dari Allah, dan kemarahan (kebencian) itu datang dari syaithan. Dia ingin membuat engkau membenci pada apa yang dihalalkan Allah kepadamu. Jika ia (isterimu) datang kepadamu, maka ajaklah ia shalat dua raka’at di belakangmu” kemudian ucapkanlah do’a “Ya Allah, berikanlah keberkahan kepadaku dengan isteriku, dan berikanlah keberkahan kepada mereka (keluarga isteri) dengan keberadaanku. Ya Allah persatukanlah kami berdua selama persatuan itu mengandung kebajikan-Mu, dan pisahkanlah kami berdua jika peripisahan itu menuju kebaikan-Mu” – Ibnu Mas’ud

————————————————————————————————————————-

Undangan

Ikhwati fillah, kami memohon doa dan kehadiran antum-antunna pada hari bersatunya kami dalam cinta-Nya. Pada akad nikah sederhana kami, Sabtu 27 Mei 2006, jam 09.00. Di Jl. Mustika Ratu No. 8 RT 007 RW 08 Ciracas, Jakarta Timur dengan tema, “Menggelar sajadah cinta, mulai membangun madrasah peradaban”. Madrasah yang dimulai dari rumah kita. Allahu Akbar!

‘Afif – Omah

————————————————————————————————————————-

PS: dikutip dari blog seorang akh

2 thoughts on “Menikah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s