Ekstrimisitas


Definisi

Penilaian atas suatu perkara adalah bagian dari pesepsi atau bahkan cara penggambaran terhadap masalah itu sendiri. Karena itu kita mulai bahasan ini dengan memperjelas definisi dari ekstrim (tatharruf).

 

Tatharruf dalam bahasa berarti berdiri di tepi, jauh dari tengah kemudian kata ini digunakan untuk menggambarkan hal-hal abstrak seperti menepi (melampau batas tengah) dalam agama, pikiran atau kelakuan. Dan diantara konsekuensi dari sikap ekstrim adalah : dekat pada kebinasaan dan bahaya serta jauh dari keamanan dan kebaikan.

 

Islam adalah Jalan Tengah (Din Al-Wasath)

Islam adalah jalan tengah dalam segala hal, baik dalam konsep, akidah, ibadah, perilaku dan undang-undang. Inilah yang dinamakan Allah sebagai “jalan yang lurus”, jalan yang membedakan kita dengan pemeluk agama lain dan filsafat. Sikap ini adalah salah satu ciri khas Islam, ia adalah satu diantara tonggak-tonggak utamanya, yang dengannya Allah membedakan ummatNya dari yang lain sebagaimana disebutkan dalam QS. 2 : 143.

 

Nash-nash syari’at selalu menyeru kepada i’tidal (sikap tengah, moderasi) dan melarang sikap berlebih-lebihan seperti ghuluw (melewati batas ), tanatthu’ (sok pintar), dan tasydid (mempersulit).

 

Contoh : Hadits dari Abu Ya’la dalam musnadnya, dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda : “Janganlah kamu memperberat dirimu, nanti Allah memperberat atas kamu. Suatu kaum telah memberati diri mereka sendiri sehingga Allah memperberas atas mereka. Lihatlah sisa-sisa hal itu dalam cara hidup para pendeta Nasrani.” (disebutkan oleh ibnu Katsir sewaktu menafsirkan Al-Hadid)

 

Islam memiliki cara pandang yang sama sekali berbeda dengan agama lain, yaitu dengan memandang bahwa fisik dan ruh memiliki hak yang sama sebagaimana ia adalah din yang membawa keseimbangan antara dunia dan akhirat, inilah keseimbangan yang sempurna (QS. 2 : 201). Islam juga menyanggah orang-orang yang mengingkari hal-hal baik (perhiasan dunia) yang diturunkan Allah untuk hambaNya (QS. 7 : 31-32).

 

Bahaya yang Mengiringi Sikap Ekstrim

Kesulitan-kesulitan yang disebabkan karena sikap ini adalah :

  1. Sikap ini tidak dapat ditanggung oleh seluruh manusia, karena setiap manusia berbeda-beda sedangkan syari’at diturunkan untuk sema manusia dan bukan khusus untuk segolongan manusia belaka.

  2. Bahwa manusia adalah makhluk yang terbatas dan mudah lelah. Jika sesaat ia dapat bersabar atas sesuatu yang menyulitkan dan melampau batas maka tak lama kemudian ia akan segera berbalik menjadi mengabaikan amal-amal tersebut, Dari ekstrim menuju ke ekstrim, hanya sifatnya saja berbeda. Bila yang satu berlebih-lebihan maka yang lain mengabaikan amal.

  3. Sikap ekstrim selalu menyebabkan adanya kewajiban lain yang sebenarnya harus dipelihara dan dilaksanakan menjadi terbengkalai.

 

Batas dan Tanda Ekstrimisitas

  1. Fanatik pada suatu pendapat dan tidak mengakui pendapat lain.

Sikap fanatisme yang keterlaluan pada suatu pendapat sehingga tidak mau mengakui adanya pendapat lain yang boleh jadi memiliki dasar yang sama kuat hanya beda penafsiran belaka. Sikap seperti ini mendakwakan diri sendiri berada diatas kebenaran sedangkan semua orang yang memiliki pandangan berbeda dengannya (meski juga berdasar nash-nash yang sama kuat) sebagai pendukung kesesatan ! Atau mendakwakan kefasikan pada orang yang memiliki perjalanan hidup berlainan dengannya.

 

Yang mengherankan ialah bahwa diantara mereka ada yang membolehkan ijtihad bagi dirinya sendiri dalam masalah2 yang sungguh sulit dipahami dan memfatwakan hasilnya, baik yang sesuai dengan pendapat orang lain maupun yang tidak tetapi mereka tidak membolehkan ulama spesialis untuk berijtihad dalam suatu permasalahan yang hasilnya berbeda dengan pendapat yang mereka yakini.

 

Inilah fanatisme yang mengganggu kita, seolah-olah berkata, “Adalah hakku untuk berbicara dan kewajibanmu untuk mendengarkan. Hakku untuk menetapkan sesuatu dan kewajibanmu mengikuti. Pendapatku benar dan tidak mengandung kesalahan, sedang pendapatmu salah melulu dan tidak ada kebenaran disana.”

 

Pendapat semacam ini tidak akan dapat dipertemukan selama-lamanya sebab pertemuan dapat terjadi dengan mudah di pertengahan jalan, tetapi dia tidak mengakui jalan tengah itu.

 

Namun yang paling membahayakan lagi ialah jika seseorang hendak mewajibkan satu pendapat kepada orang lain dengan menggunakan “tongkat” yang sangat menyakitkan. Tongkat ini tidak terbuat dari besi atau kayu melainkan dengan melemparkan tuduhan berbuat bid’ah (mengada-ada), mendustakan agama (zindiq), kufur dan sesat. Inilah teror dan intimidasi yang lebih dahsyat dan lebih menakutkan daripada teror fisik. Bagaimana tidak ? Dengan tuduhan-tuduhan ini bisa saja mengahalalkan saudara sesama muslim, walaupun ia berbeda pandangan dengan kita. Na’udzu billah, kita berlindung pada Allah dari yang demikian.

 

  1. Mewajibkan atas manusia sesuatu yang tidak diwajibkan Allah atas mereka

Memang masih dapat dibenarkan jika seorang muslim terkadang mengerjakan sesuatu yang berat dan meninggalkan kemudahan-kemudahan yang diberikan padanya. Akan tetapi sikap seperti ini tidak dapat diterima jika ia wajibkan untuk kebanyakan manusia, sesuatu yang akan membawa kesulitan dalam agama atau kepayahan dalam duniawi mereka. Sedangkan sifat Rasulullah saw yang paling terkenal sebagaimana termaktub dalam QS. 7:157 adalah menghalalkan yang baik, mengharamkan yang buruk dan memudahkan manusia.

 

Karena itulah beliau saw adalah orang yang paling panjang shalatnya ketika sendirian dan paling ringan ketika ber jama’ah, hal ini beliau lakukan demi memelihara keadaan dan mengingat perbedaan tingkat kemampuan mereka (HR. Bukhari).

 

Termasuk pula dalam hal ini ialah memaksakan orang lain melakukan hal-hal yang sunnah, dengan menganggapnya seolah-olah wajib, dan menganggap yang makruh seolah-olah haram. Padahal yang diharuskan ialah agar kita tidak mewajibkan sesuatu kecuali dengan apa yang telah diwajibkan Allah SWT atas insan. Adapun yang selebihnya, adalah pilihan bagi manusia. Bila ia inginkan, boleh melakukannya ; dan bila tidak, boleh ditinggalkannya.

 

Yang menyedihkan ialah bahwa setiap ulama yang keluar dari garis ini untuk kemudian menyeru kepada kemudahan, atau bahkan memberi nasihat yang lebih lunak, serta dapat melepaskan dari kesulitan, dengan tetap berpegang teguh pada tujuan syari’at dan hukum2nya, niscaya akan diletakkan dalam “sangkar tuduhan”.

 

  1. Memperberat yang tidak pada tempatnya

Termasuk dalam hal ini ialah meletakkan sesuatu tidak pada proporsi yang sesuai dengan tempat dan zamannya. Seperti menghendaki sesuatu yang berat atas kebanyakan manusia, yang mayoritas belum siap dengan “kenyataan”. Seyognyanya untuk mereka dipilihkan hal-hal yng meringankan dalam masalah2 furu’ (cabang2 fiqh) dan perkara yang masih diperselisihkan (khilafiah) ; memusatkan perhatian pada pokok2 aqidahnya sebelum masuk ke bagian-bagian terperinci ; yang ushul sebelum yang furu’. Selanjutnya setelah mereka meyakini dengan ketetapan hati, barulah mengajak kepada rukun-rukun Islam, cabang-cabang iman dan kemudian peringkat-peringkat ihsan. Inilah salah satu sifat da’wah Islam yaitu tadarruj (bertahap). Cara yang sama dikenalkan Rasulullah ketika membina para sahabat ra.

 

Yang perlu diperhatikan ialah bahwa bukan berarti hal-hal “ringan” semacam adab majlis, cara berpakaian, cara makan etc tidak penting ; tetapi adalah masa penyampaian yang lebih tepat jika dilakukan sesudah membenahi pokok-pokok aqidah sehingga menjadi aqidah yang selamat dan benar (salimul ‘aqidah).

 

  1. Sikap kasar dan keras

Allah telah memerintahkan kita untuk bersikap halus dan lemah lembut dalam berbicara serta menyeru dengan hikmah (QS. 16 : 25), bukan dengan mencela setiap orang yang salah menurut pandangan kita (du’at la qudhat, da’i bukan hakim).

 

Perhatikan bahwa tiada sesuatu yang lebih buruk keadaanya bila disampaikan dengan cara yang keras dan kasar, terlebih lagi seruan pada agama Allah. Karena hal ini memerlukan usaha yang perlu memasuki jiwa manusia agar mampu merubah kondisi jiwa dan akhlaq mereka. Dan hal ini tidak akan mampu dilakukan kecuali dengan kearifan, kebijaksanaan dan pengetahuan tentang karakter insan.

 

Aku tidak lebih buruk dari Fir’aun dan engkau tidak lebih baik dari Musa, karena itu sampaikanlah dengan baik (kebenaran dari Rabb-mu)!

 

Perintahkanlah kebaikan dengan cara yang baik pula.

 

  1. Buruk sangka terhadap insan

Dalam hal ini ialah memandang orang lain dengan “kacamata hitam”, menyembunyikan kebaikan mereka sementara membesar-besarkan keburukan mereka. Bahkan tidak hanya tertuju pada orang-orang kebanyakan saja, tetapi juga meliputi tokoh-tokoh utama ummat ini, sehingga hampir saja tidak seorangpun ; ulama, da’i ataupun cendekiawan muslim yang selamat dari tuduhan mereka.

 

Yang penting bagi orang yang bersikap ekstrem adalah MENUDUH. Dan yang penting dalam menuduh adalah menetapkan kesalahan dengan segala cara yang bertentangan dengan syari’at maupun undang-undang negara, yaitu “praduga tak bersalah”.

 

Mengherankan; betapa cepatnya kesalahan ditemukan, aib dikorek-korek kemudian genderang ditabuh untuk mengubah suatu kesalahan kecil menjadi dosa besar dan mengidentikkan hal ini dengan kekufuran.

 

Bila ada ucapan atau tindakan yang mengandung 2 kemungkinan; kebaikan atau keburukan, maka mereka memenangkan keburukan diatas kebaikan. Bertentangan dengan yang diungkapkan oleh ulama ummat ini untuk mendahulukan anggapan baik atas sesama muslim. Siapa saja yang bertentangan dengan mereka akan segera mendapat tuduhan perbuatan maksiat atau bid’ah atau tindakan meremehkan sunnah. Jika anda berbeda pendapat dengan mereka tentang sunnahnya makan di atas lantai misalnya, mereka akan menuduh anda tidak menghormati sunnah atau bahkan tidak mencintai Rasulullah saw.

 

Namun tuduhan ini tidak hanya berhenti pada orang-orang yang masih hidup saja, tetapi berpindah pada orang-orang yang sudah mati yang tidak sanggup lagi menolak tuduhan terhadap diri mereka. Tidak seorangpun dari pribadi-pribadi terpandang ummat ini, melainkan akan ditujukan panah tuduhan kepadanya. Yang ini masonit (yahudi), yang itu kufur/sesat dan yang itu mu’tazilah Naudzubillah min dzalik. Apakah mereka juga akan melakukan hal serupa pada imam-imam madzhab ? Yang mendapat keutamaan dan tempat di hati ummat sepanjang masa ?

 

Intisari buku Yusuf Qaradhawy, Shohwah Islamiyah Baina Juhud wa Tatharruf

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s