Bai’at


“Demikianlah Kami jadikan kamu ummat yang ‘pertengahan’, supaya kamu menjadi saksi atas manusia.” (QS 2 : 143)

Muqaddimah

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menulis dalam judul pembahasan : Kesatuan Millah dan Beragamnya Syariat, sebagai berikut :

 

“Pokok2 dari al-Qur’an, as-Sunnah dan al-Ijma’ adalah seperti kedudukan agama yang dimiliki oleh para nabi. Tidak seorangpun yang boleh keluar daripadanya, dan barangsiapa yang masuk ke dalamnya maka ia tergolong kepada ahli Islam yang murni dan mereka adalah Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Adapunkeragaman amal dan perkataan dalam masalah syariat adalah seperti keragaman syariat diantara masing2 nabi. Tanawwu’ (perbedaan pendapat) ini terkadang bisa pada perkara yang wajib, terkadang bisa pada perkara yang sunnah [Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyyah I/123-124]

 

Pokok Bahasan

Saat ini kita banyak melihat adanya gerakan-gerakan berlabel ‘Islam’ bertebaran di dunia. Ada yang moderat dan ada yang jatuh pada titik ekstrim. Semua misi yang diusung oleh gerakan-gerakan tadi, InsyaAllah adalah kebaikan. Hanya perlu adanya sebuah kewaspadaan bahwa bisa jadi ada skenario untuk merusak kesatuan gerakan Islam. Salah satu caranya ialah memunculkan gerakan berlabel Islam tetapi secara zhahir memiliki manhaj yang ekstrim dan mudah mengkafirkan atau menyesatkan gerakan lain yang tidak sepaham dengan mereka.

 

Salah satu ciri khas gerakan ini adalah ‘mewajibkan atas manusia sesuatu yang tidak diwajibkan Allah atas mereka’. [Yusuf Qaradhawy, Shohwah Islamiyah Baina Juhud wa Tatharruf]

 

Kita bisa mengetahui dari siroh, bahwa rasulullah saw adalah orang yang paling panjang shalatnya ketika sendirian dan paling ringan ketika ber jama’ah, hal ini beliau lakukan demi memelihara keadaan dan mengingat perbedaan tingkat kemampuan mereka (HR. Bukhari).

 

Include, memaksakan orang lain melakukan hal-hal yang sunnah, dengan menganggapnya seolah-olah wajib, dan menganggap yang makruh seolah-olah haram. Padahal Allah telah menetapkan posisi masing-masing nash dalam Al-Qur’an dan Sunnah dengan jelas. Yang diharuskan ialah agar kita tidak mewajibkan sesuatu kecuali dengan apa yang telah diwajibkan Allah SWT atas manusia. Adapun yang selebihnya, adalah pilihan bagi manusia. Bila ia inginkan, boleh melakukannya; dan bila tidak, boleh ditinggalkannya.

 

Salah satu ulama salaf yang memiliki kepekaan terhadap permasalahan ini adalah Imam Nawawi. Kita lihat bahwa beliau (Imam Nawawi) cenderung meletakkan perintah dan larangan Allah pada tingkatfardlu (wajib) dan sunnah pada tingkat mustahab (disukai). [Imam Nawawi, Riyadhus Shalihin]

 

Beberapa Masalah

Ada gerakan Islam yang berpendapat bahwa bai’at adalah sebuah kewajiban bagi setiap muslim, barangsiapa yang tidak melakukannya maka ia terlepas dari Islam (murtad)

 

Mereka berdalil dengan;

“Barangsiapa yang meninggal dan dilehernya tidak ada bai’at maka ia mati dalam keadaan Jahiliyyah” [HR Muslim, III/1478]

 

Hadits ini ditujukan pada Imamah Al-Uzhma atau kepada khalifah, Ketika Imam Ahmad ditanya tentang bai’at ini dia berkata: “Bai’at ini adalah bai’at untuk Imam”. Smentara itu adakah khalifah saat ini? Karena itu berdalil wajibnya bai’at dengan menggunakan hadits diatas tertolak. Bahkan seandainya benar ada bai’at untuk khalifah, maka menolak untuk membai’atnya pun tidak dapat disalahkan.

 

Imam Al-Waqidi mencatat ada 7 orang shahabat besar -ridwanullah alaihim- yg tidak memberikan bai’at pada Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a yaitu : Sa’d bin Abi Waqqash, Abdullah bin Umar, Shuhaib bin Sinan, Zaid bin Tsabit, Muhammad bin Maslamah, Salamah bin Aqwa’ dan Usamah bin Zaid -ridwanullah alaihim-. [Tarikh Ar-Rusul, Al-Waqidi, IV/429]

 

Ali berkata pd Sa’ad bin Abi Waqqash : “Ber-bai’atlah engkau!” Sa’ad menjawab : “Aku tidak akan ber-bai’at sebelum orang-orang semua ber-bai’at. Tapi demi Allah tidak ada persoalan apa-apa bagiku.” Mendengar itu Ali berkata : “Biarkanlah dia.” Lalu Ali menemui Ibnu Umar dan berkata yang sama, maka jawab Ibnu Umar : “Aku tidak akan ber-bai’at sebelum orang2 semua ber-bai’at.” Jawab Ali: “Berilah aku jaminan.” Jawab Ibnu Umar : “Aku tidak punya orang yg mampu memberi jaminan.” Lalu Al-Asytar berkata : “Biar kupenggal lehernya!” Jawab Ali : “Akulah jaminannya, biarkan dia.”Al-Milal wa An-Nihal, Ibnu Hazm, IV/103 dari riwayat Imam At-Thabari] [

 

Itulah bai’at untuk khalifah, sementara ada pula yang berpendapat bahwa setiap muslim wajib ber’baiat pada Islam didepan seorang Imam. Mereka berdalil bahwa Islam yang diperoleh karena keturunan wajib diperbarui, dengan dalil perkataan Rasulullah;

 

“Tidak ada hijrah setelah fathu Makkah, akan tetapi aku membai’atnya untuk menganut Islam.” [Shahih al-Bukhari 6/189. Hadits ke 3079. Kitabal-Jihad bab la hijrata ba’da al-fath, Kitab al-Imarah 3/2488. hadits ke 1864]

 

Hadits diatas berasal dari Mujasyi’ bin Mas’ud yang datang membawa saudaranya yang bernama Mujalid bin Mas’ud kepada Rasul untuk berbai’at. Yang dipahami adalah Rasulullah membai’atnya untuk masuk Islam dari kondisi jahiliyah, bukan berarti membai’at seseorang yang sudah masuk Islam dan diperbarui. Ini adalah persoalan yang sudah jelas.

 

Sebagai penguat lagi bahwa baiat yang umum tidak mungkin diberikan kecuali hanya kepada pemimpin kaum muslimin (amirul mu’minin/khalifah), yang mampu mengumumkan perang, mengikat perdamaian dan menegakkan hukum-hukum had [Fiqh al-Da’wah al-Islamiyyah]. Dikarenakan masalah baiat adalah masalah yang jelas yang tidak mengandung kerancuan, tegas tidak menerima basa-basi. [Fi Zhilalil Qur’an II/782]

 

Seandainya benar ada bai’at untuk memperbarui aqidah/keimanan kita, maka seharusnya ada riwayat yang jelas dari rasulullah bahwa beliau pernah membai’at salah seorang sahabatshaghir atau anak-anak sahabat untuk memperbarui/menguatkan keIslamannya. Tetapi tidak ada satu dalil pun yang bisa diterima mengenai masalah ini. Karena masalah ini, jika benar, maka setiap muslim (dari lahir/keturunan) wajib memperbarui keIslamannya didepan imam, makamafhum mukhalafahnya ialah selainnya berarti murtad. Ini perkara yang besar, tidak mungkin dalam syari’at terlewat.

 

Maraji‘ :

al-Wala’ wal bara’, Muhammad bin Sa’id Al-Qahthani, Era Intermedia

Minhajul Muslim, Abu Bakr Al-Jazairy, UMM Press

Shohwah Islamiyah Baina Juhud wa Tatharruf, Yusuf al-Qaradhawy

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s