Terorisme, Perang Pengganti


Terorisme, Perang Pengganti

Terorisme bukan gejala baru. Ia sudah ada sejak adanya masyarakat manusia. Perasaan diteror atau rasa gentar mencekam merupakan salah satu kelemahan manusia, dan terorisme adalah cara dan sarana mencapai tujuan dengan mengeksploitasi kelemahan itu. Bentuk teror dapat berupa pembunuhan, penganiayaan, pemboman, peledakan, pembakaran, penculikan, intimidasi, penyanderaan, pembajakan dan lain sebagainya. Semuanya itu dapat menimbulkan perasaan panik, ngeri, khawatir dan ketidakpastian.

 

Attila (434-453M) seorang raja bangsa Hun, terkenal sebagai salah seorang yang luas dalam sejarah yang melakukan terorisme dengan sangat efektif dalam perang petualangannya di Eropa bagian timur dan tengah.

Istilah terorisme dalam arti modern untuk pertama kalinya digunakan dalam pemerintahan Kaum Jacobins dalam Revolusi Perancis yang dengan bangga menamakan dirinya ”Kaum Teroris”. Aksi-aksi teror yang mereka lakukan berkembang menjadi suatu sistem mengeksploitasi rasa gentar/ngeri manusia terhadap kekerasan fisik dengan maksud menimbulkan perasaan tidak berdaya atau memancing tindak balas yang dapat mencetuskan situasi yang menguntungkan bagi kelompok teroris (huru hara, kekacauan sosial, pemberontakan dan revolusi).

Teror dan terorisme telah berkembang dalam sengketa ideologi, fanatisme agama, perjuangan kemerdekaan, pemberontakan, gerilya, bahkan juga oleh pemerintah sebagai cara dan sarana menegakkan kekuasaannya. Juga telah melampaui batas-batas nasional. Terorisme Internasional muncul di samping Terorisme Domestik.

Pada mulanya, banyak pendapat yang menganggap terorisme sebagai suatu gejala sementara yang akan hilang dengan sendirinya. Dan pelakunya dianggap gila, kurang waras atau kriminal. Gejala itu dianggap akan lenyap dengan meningkatnya peradaban dan melihat kenyataan bahwa terorisme tidak pernah dan tidak akan berhasil mencapai tujuan atau menyelesaikan persoalan. Tetapi kenyataan menunjukkan terorisme terus berlangsung, bahkan berkembang dan meluas.

 

Teror di Olimpiade Munich (1972), pembantaian massal di Bandar Udara Lod (1972), penculikan dan pembunuhan PM Italia Aldo Moro (1980-an), teror berkepanjangan di Lebanon, Afrika Selatan, Irlandia Utara, dll ternyata bukan pekerjaan manusia kurang waras. Mereka tahu pasti sasaran dan tujuannya, teliti dalam merencanakannya, mantap dalam pelaksanaannya. Mereka adalah manusia-manusia yang metodis dan rasional.

PENGERTIAN, TUJUAN DAN SASARAN

Terorisme dapat dipandang dari berbagai sudut ilmu : sosiologi, kriminologi, politik, psikiatri, hubungan internasional dan hukum. Oleh karena itu sulit merumuskan suatu definisi yang mampu mencakup keseluruhan aspek dan dimensi berbagi disiplin ilmu itu.

Namun dapat diteumukan beberapa ciri utamanya yaitu, (a) pengeksploitasian rasa gentar/ngeri manusia ; (b) penggunaan atau ancaman penggunaan kekerasan fisik ; (c) adanya unsur pendadakan dan kejutan ; (d) mempunyai tujuan dan sasaran.

Atas dasar ciri-ciri itu, terorisme diartikan sebagai penggunaan atau ancaman penggunaan kekerasan fisik yang direncanakan, dilakukan secara mendadak terhadap sasaran yang tidak siap (non kombatan) untuk mencapai tujuan politik.

Dalam rangka mencapai tujuannya, terorisme dapat mempunyai maksud-maksud sebagai berikut :

  1. Mendapatkan konsesi tertentu, seperti uang tebusan, pembebasan tahanan, penyebarluasan pesan, dan sebagainya.

  2. Memperoleh publisitas luas. Teroris ingin menarik perhatian yang luas terhadap tujuan dan aspirasi perjuangannya dan pengakuan keberadaannya sebagai pihak yang perlu diperhitungkan. Karena biasanya kelompok teroris itu kecil, maka untuk mencapai maksud tersebut, aksi teror yang dilakukan harus cukup dramatik dan menggemparkan.

  3. Menimbulkan kekacauan luas, demoralisasi dan keruntuhan tatanan masyarakat. Ini merupakan tujuan utama kaum revolusioner, nihilis atau anarkis. Tetapi strategi semacam ini sering gagal. Masyarakat, bahkan juga mereka yang tadinya bersimpati, akan ikut membantu memberantas mereka yang melakukan teror membabi buta.

  4. Memancing tindak balas dan/atau kontra teror dari pemerintah sedemikian rupa, sehingga menimbulkan situasi yang menguntungkan teroris, bahkan akhirnya mungkin dapat menggulingkan pemerintah.

  5. Memaksakan kepatuhan dan ketaatan. Ini biasanya dilakukan pemerintah fasis, diktatorial atau totaliter. rakyat yang beroposisi atau membangkang, lenyap karena “diambil” tengah malam, disiksa untuk memperoleh “pengakuan”, dilemparkan dan dikerangkeng dalam kamp konsentrasi dan sebagainya. Tindakan seperti ini juga terdapat dalam kelompok-kelompok teroris sendiri, dilakukan terhadap anggotanya untuk menjamin ketaatan dan loyalitas.

  6. Menghukum mereka yang dianggap bersalah, atau yang dipandang sebagai simbol dari sesuatu yang tidak patut, seperti penentang perjuangan kaum teroris, bekerja sama dengan musuh, memberi informasi kepada pemerintah, gaya hidup yang bertentangan dengan pendapat mereka dan sebagainya.

Semua tindakan dilakukan untuk memaksakan kehendak, meyakinkan lawan akan kesungguhan tujuan perjuangan dan memperoleh perhatian umum.

REVOLUSI, GERILYA DAN TERORISME

Secara sederhana, revolusi adalah ledakan sosial yang besar dan mendadak. Perubahan sosial itu merupakan reaksi terhadap kondisi tertentu dalam sistem sosial yang tidak mampu mengatasi atau menyesuaikan diri dengan gangguan atau kesulitan yang dialami oleh satu atau lebih komponen atau substruktur dari sistem itu (disfunction).

Disfungsi timbul karena tekanan-tekanan dari dalam dan/atau luar sistem sosial yang disebabkan oleh keadaan yang terus menerus berubah. Revolusi terjadi karena perubahan sistem sosial secara evolusioner untuk mengatasi disfungsi tidak berlangsung, sebab dihalangi oleh penguasa/pemerintah, baik secara sadar atau tidak.

Revolusi memerlukan kekerasan untuk memaksa terjadinya perubahan dalam sistem sosial. Semakin banyak komponen/substruktur dari sistem sosial mengalami disfungsi, semakin hebat kekerasan yang diperlukan. Jika semua atau sebagian besar komponen mengalami gangguan (gangguan sistemik) dan tidak dapat diatasi secara evolusioner, semakin dahsyat ledakan revolusi. Akan terjadi ledakan beruntun dari berbagai komponen itu dalam kurun waktu yang hampir bersamaan, mencetuskan revolusi sangat besar.

Revolusi kemerdekaan Amerika, Revolusi Perancis dan Revolusi Komunis disebut sebagai revolusi-revolusi sangat besar, yang mempunyai dampak dan gema di seluruh dunia.

Kekerasan dalam revolusi akan clash dengan kekuatan penguasa, yaitu angkatan perang dan polisi, yang jauh lebih unggul dan profesional dalam organisasi, disiplin, kemahiran dan persenjataan. Jika kekerasan tidak dapat dipatahkan, penguasa dan sistem pemerintahannya akan tumbang. Jika kekerasan dapat dipatahkan, kaum revolusioner akan melanjutkan perjuangannya dengan melakukan perang gerilya.

Perang gerilya memberi peluang bagi terorisme. Dalam keadaan tertentu yang kurang menguntungkan bagi perang gerilya, seperti di daerah perkotaan, di medan luas yang terbuka, dan sebagainya, terorisme malah memainkan peran utama.

Gerilya Kota (Urban Guerilla) sebenarnya adalah istilah lain dari terorisme. Oleh karena itu, terorisme sering disebut “senjata kaum lemah”, namun dapat menarik perhatian luas, bahkan perhatian dunia, menimbulkan rasa khawatir, ketidakpastian, dan adakalanya dapat pula memaksa pemerintah memenuhi tuntutannya. tetapi belum ada pemerintah yang berhasil dijatuhkan hanya oleh terorisme.

Pemerintah dapat tumbang, atau menyerahkan kekuasaan kepada pihak militer atau kepada pejuang revolusioner, jika terdapat faktor-faktor lain, bila berbagai komponen sistem sosial mengalami disfungsi, seperti keadaan perekonomian nasional yang semakin parah, pengangguran yang meluas, inflasi yang tinggi, jurang antara kaya dan miskin yang lebar menganga, “keadilan” yang timpang, korupsi yang merajalela, hukum yang tidak mengayomi, kebebasan mengeluarkan pendapat yang semakin ditindas, ketergantungan kepada pihak luar yang semakin besar dan sebagainya. Dalam keadaan demikian, kaum revolusioner dan atau kaum teroris tinggal menyulut api dalam sekam untuk meledakkan revolusi. (Perhatikan revolusi yang meledak di Filipina, Korea Selatan dan akhir-akhir ini di Birma!).

Di negara-negara barat, terorisme dibedakan dari perang gerilya. Perang gerilya diartikan sebagai perang yang dilakukan oleh para militer terhadap militer reguler lawan, sedangkan dalam terorisme sasarannya adalah nonkombatan (sasaran yang tidak siap atau dalam hal ini dapat diartikan sipil/masyarakat).

 

Namun dalam praktek hal itu sukar dibedakan, karena keterjalinan kedua bentuk dan cara penggunaan kekerasan itu, terutama dalam berbagai macam perang revolusioner, seperti perang kemerdekaan, perang pembebasa nasional, perang ideologi, perang agama dan sebagainya.

Perang Pembebasan Nasional adalah istilah yang dipakai kaum marxisme/komunis untuk insurjensi. Insurjensi umumnya terjadi di negara-negara dunia ketiga yang sering didalangi, dibantu atau ditunggangi pihak luar, apabila sesuai dengan kepentingan politik dan strategi mereka.

Berbeda dengan terorisme dalam insurjensi di negara dunia ketiga, terorisme di Eropa Barat umumnya dilakukan oleh berbagai kelompok New Left, anarkis atau nihilis. Sasarannya adalah perorangan dan lembaga-lembaga sosial yang dinilai opresif, represif, borjuis atau imperialis. Selain kelompok-kelompok tersebut, terdapat pula berbagai kelompok separatis atau etnis rasialis seperti IRA, ETA dan beberapa “teroris dalam pengasingan”, terutama yang berasal dari Amerika Latin.

Clausewitz mengatakan “perang adalah kelanjutan dari politik dengan cara-cara lain”. Yang dimaksud dengan “cara-cara lain” adalah kekerasan/kekuatan fisik (bersenjata). Diktum Clausewitz itu dapat pula diberlakukan pada terorisme. Dengan demikian, pada hakikatnya terorisme juga adalah perang, yaitu salah satu bentuk dan cara perang politik (political warfare).

TERORISME INTERNASIONAL

“Perang Politik”, baik terbuka maupun tertutup, sudah lama dikenal dan dijalankan. Di barat ia dikenal dengan istilah “Perang Urat Syaraf”, di Uni Soviet disebut “Tindakan-Tindakan Aktif (Active Measures)”.

 

Walaupun banyak negara melakukan perang politik -umumnya secara tertutup- hanya beberapa yang melakukannya secara berencana matang.

 

Uni Soviet dan Jerman pada zaman Nazi dinilai sebagai negara-negara yang paling banyak mengembangkan teori dan praktek perang politik dalam berbagai cara dan bentuknya. Negara-negara barat, walaupun juga menjalankan perang politik, namun tidak se-ekstensif, intensif, terkoordinasi dan terintegrasi seperti di Uni Soviet. Faktor-faktor wawasan politik, kebudayaan, falsafah, sistem nilai, konsepsi politik luar negeri dan hubungan internasional agaknya ikut berpengaruh bila hendak melancarkan teror dan terorisme sebagai salah satu bentuk dan cara perang politik.

Bukan merupakan rahasia bahwa Marxisme adalah suatu paham yang “keras”. Karl Marx dan Frederick Engels melihat sejarah dan masyarakat hanya dalam hubungan konflik dan perjuangan untuk merebut kekuasaan material. Perubahan sejarah terjadi karena suatu kelas ekonomi merebut dan menggulingkan dominasi kelas lain dengan kekerasan.

Sejak akhir perang dunia kedua, dunia tidak lagi mengenal kata “damai”. Berbagai pergolakan berlangsung berkepanjangan. Konfrontasi adikuasa yang meluas menjadi konflik Timur-Barat dan menyeret beberapa negara dunia ketiga ke dalamnya, konflik Utara-Selatan, perjuangan kemerdekaan melawan penjajah, pergolakan rasial, konflik regional yang “menarik” campur tangan pihak ketiga, pergolakan dalam negeri (domestik) di sekian banyak negara dunia ketiga, membuat dunia labil dan bergejolak.

Ketidakstabilan dunia dan frustrasi banyak negara berkembang dalam perjuangan menuntut hak-hak yang dianggapnya fundamental dan sah, membuka peluang bagi muncul dan meluasnya terorisme internasional. Fenomena terorisme internasional itu sendiri, merupakan gejala yang relatif baru, yaitu sesudah perang dunia kedua, dan meningkat sejak permulaan dasawarsa 1970-an.

Terorisme Internasional adalah tindakan kekerasan melampaui batas nasional atau mempunyai akibat internasional, yang dilakukan dalam wilayah sendiri, wilayah negara lain, atau melibatkan warga negara pihak ketiga. Atau dapat juga diartikan sebagai tindakan kekerasan yang dilakukan di luar ketentuan/peraturan diplomasi internasional dan perang. Sebagai sasaran dipilih orang-orang tertentu atau benda mati, misalnya diplomat, pejabat, pengusaha besar, kapal terbang, kapal laut dan sebagainya. Teroris dimotivasi oleh hasrat untuk mempengaruhi masyarakat dan pendapat internasional terhadap aspirasi perjuangannya.

Usaha dunia untuk mengatasi terorisme internasional telah menjadi suatu masalah tersendiri yang belum memperoleh kesamaan pendapat dan pandangan. Dan itu merupakan tantangan yang amat pelik. Tidak ada satu negara secara sendirian mampu mengatasi masalah ini. Untuk itu diperlukan tindakan bersama, tindakan internasional, tidak hanya tindakan reaktif, tetapi juga yang bersifat preventif dengan menangani dan menghilangkan faktor-faktor inti penyebabnya.

Pemecahan masalah tidak bisa hanya secara hukum. Karena ia merupakan salah satu bentuk dan cara perang politik, sering ia memperoleh bantuan dari pihak ketiga -kendati sering tertutup- maupun tidak resmi, berdasarkan berbagai maksud dan tujuannya sendiri.

Banyak negara dunia ketiga membenarkan terorisme dalam perjuangan kemerdekaan atau persamaan hak-hak asasi, yang terpaksa dilakukan karena perjuangan sah itu sering ditindas secara kejam oleh penjajah atau penguasa.

 

Dalam hubungan itu, perjuangan bangsa Palestina yang menuntut pembentukan negara nasional sendiri, perlu mendapat perhatian serius. Selama penyebab dasarnya belum terpecahkan, perdamaian dan ketenangan di Timur Tengah agaknya tidak akan pulih, teror dan kontra teror akan berlangsung terus, di Tepi Barat (West Bank), Lebanon, Jordania, jalur Gaza, dan di daerah-daerah pemukiman pengungsi Arab-Palestina.

 

Para teroris dalam PLO (Organisasi Pembebasan Palestina), bergabung dalam dua kelompok besar, yaitu (1) kelompok yang betul-betul berjuang untuk mencapai tujuan terbentuknya negara nasional melalui persetujuan, dan (2) kelompok yang bertujuan mencegah terjadinya persetujuan dengan Israel, kecuali sepenuhnya sesuai syarat yang ditentukannya sendiri, yakni hapusnya negara Israel.

Setelah lebih dari dua generasi bangsa Arab -Palestina dan Yahudi hidup dalam suasana keras dan kekerasan, gerilya, teror dan kontra teror, timbul kekhawatiran, teror dan terorisme itu akan dianggap sebagai suatu yang biasa dan wajar dalam perjuangan. Warga bangsa-bangsa Arab yang hidup dalam wilayah sengketa “abadi” Arab Palestina – Israel, akan dapat menjadi sumber pengerahan tenaga manusia (recruitment) bagi berbagai organisasi teroris dengan berbagai tujuan di berbagai daerah dunia.

BANTUAN LUAR

Terorisme Internasional dapat berkembang karena bantuan pihak ketiga, baik yang resmi atau tidak. Bantuan itu antara lain dapat berupa :

  1. Latihan, diberikan di tempat yang dibantu, di negara ketiga atau di negara yang membantu.

  2. Bantuan Lethal (menimbulkan kematian), seperti senjata, peluru, bom, bahan peledak, dan sebagainya, diberikan secara langsung atau lewat negara/organisasi perantara.

  3. Bantuan Non Lethal, seperti pembekalan, alat atau jasa angkutan, komunikasi, kesehatan, keuangan, bantuan hukum, suaka, dokumen penting (peta, intelijen, informasi) dan sebagainya.

  4. Propaganda, baik yang terbuka, yaitu langsung menyebarluaskan dan membela tujuan perjuangan pihak yang dibantu, atau yang tertutup, melalui berbagai organisasi/kelompok perantara (front groups/organizations).

  5. Disinformasi, menyebarluaskan informasi palsu atau provokatif yang mendiskreditkan pihak lawan yang dibantu.

Kedua negara adikuasa saling menuduh membantu teroris. Amerika sering menuding Uni Soviet dan kawan-kawan sebagai dalang atau pendukung terorisme di dunia, terutama di Amerika Tengah, Afrika bagian selatan, Eropa Barat dan di Amerika sendiri. Uni Soviet dituduh berkepentingan dengan dunia yang tetap kacau melalui negara/organisasi satelit atau surogat.

Sebagai satelit Uni Soviet, disebut adalah Kuba (pengacau utama di Amerika Tengah, Nikaragua, Bolivia, Uruguay, Guatemala, Managua, El Salvador, Kosta Rika, dan terlibat langsung di Afrika bagian selatan), Republik Demokrasi Jerman dan Cekoslowakia (membantu teroris di Eropa Barat terhadap kepentingan Amerika Serikat dan NATO), Angola dan Mozambik (negara-negara marxis yang membantu Patriotic Front of Zimbabwe dan African National Congress, World Peace Council), sedangkan sebagai surogat adalah Republik Demokrasi Korea (pengacau di Timur Jauh, khususnya di semenanjung Korea), PLO, Suriah dan Libya.

Ketiga surogat terakhir, walaupun bukan marxis, namun sangat anti-zionis dan anti-imperialis, oleh karena itu sangat berguna bagi Uni Soviet.

Libya dituduh terlibat dalam terorisme atau subversi di lebih kurang 40 negara, mulai dari Filipina, Asia Tenggara sampai Nikaragua dan Irlandia Utara, walaupun fokus kegiatannya adalah Afrika Utara dengan pemimpin negara-negara “pro barat” sebagai sasaran, seperti almarhum Presiden Anwar Sadat dari Mesir, bekas Presiden Numeiry dari Sudan, bekas Presiden Bourguiba dari Tunisia dan Raja Hassan dari Maroko.

Sebaliknya, Uni Soviet menuduh Amerika Serikat membantu teroris atau subversi, menindas perjuangan rakyat yang menuntut kemerdekaan atau persamaan hak, bahkan langsung melakukan terorisme sendiri. Tindakan di luar hukum terhadap Nikaragua, Kuba, Libya, bantuan bagi kaum teroris dan pemberontak Kuba dengan memberikan tempat perlindungan di Amerika Serikat (Florida), bantuan bagi kaum Contra, Israel dan lain-lain, disebut sebagai contoh-contoh terorisme internasional oleh Amerika Serikat.

PERKEMBANGAN TERORISME

Kelabilan dunia dan kemajuan teknologi merupakan suasana baik bagi berkembangnya terorisme, baik domestik maupun internasional. Masyarakat modern rawan terhadap terorisme, karena daerah perkotaan dengan lingkungan yang padat merupakan sasaran empuk. Kesibukan sehari-hari relatif dengan mudah dapat dilumpuhkan melalui sabotase terhadap sistem jaringan listrik, jaringan komunikasi, atau dengan dengan meracuni sumber/persediaan air bersih. Udara dalam gedung bertingkat yang tertutup rapat dapat diracuni dengan bahan kimia dan biologis melalui sistem ventilasinya. Kalau hal-hal itu tidak atau belum terjadi, merupakan petunjuk bahwa sampai sekarang terorisme tidak mengutamakan pembunuhan massal secara membabi buta. Teroris lebih memerlukan perhatian massa, bukan pembunuhan massal.

 

Teknologi menyediakan berbagai alat dan sarana yang semakin efektif bagi para teroris. Kapal terbang sipil dapat ditembak dengan rudal tangan pada saat akan mendarat atau sedang lepas landas (meledaknya pesawat C-130 Hercules AU Pakistan yang menewaskan Presiden Zia Ul-Haq juga mungkin karena “dirudal tangan”). Teknologi nuklir yang semakin tersebar luas, merupakan ancaman lebih gawat lagi. Bahan peledak dan senjata-senjata “tangan” nuklir sudah dapat dibuat. Penggunaan reaktor nuklir pembangkit listrik yang semakin meluas menghasilkan plutonium dalam jumlah yang cukup besar yang memungkinkan pembuatan senjata-senjata tangan nuklir itu. Jika teroris berhasil memperoleh bahan itu, maka mereka akan mempunyai senjata mengerikan yang mengancam masyarakat internasional dan pemerintah negara-negara di dunia.

 

Teknologi informatika (komputer, elektronika, televisi) dan transportasi memberikan kemudahan pula bagi usaha memperoleh perhatian massa dan dunia, serta mempertinggi mobilitas internasional. Berbagai kelompok teroris di berbagai negara akan dapat menjalin kerjasama dalam melancarkan aksi-aksi terorisme internasional, seperti telah terjadi antara United Red Army of Japan dan Popular Front for The Liberation of Palestine dalam aksi teror di bandara Lod tahun 1972. Juga diketahui terdapat kerjasama antara unsur-unsur IRA dan ETA, serta antara berbagai kelompok teroris di Amerika Latin.

 

Kemungkinan meluasnya kerjasama terorisme internasional itu tidak dapat diremehkan. Kelompok-kelompok kecil teroris akan dapat mem-pool sumber dayanya yang terbatas dan beroperasi jauh lebih efisien dan efektif ketimbang bertindak sendiri-sendiri. Orang malahan telah berbicara mengenai kemungkinan digerakkannya revolusi simultan, yakni suatu gerakan teroris sedunia terhadap suatu kelompok negara atas dasar perbedaan ideologi, politik dan ekonomi.

 

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka beberapa kemungkinan perkembangan terorisme di masa depan antara lain adalah sebagai berikut :

 

  1. Terorisme Menjadi Perang Pengganti (Surrogate Warfare)

Seperti telah disebutkan, terorisme adalah satu bentuk dan cara dari perang politik. Ia menggunakan kekerasan dalam mencapai tujuannya, walaupun jauh lebih kecil ketimbang perang sebenarnya.

Dengan mengesampingkan perang nuklir, karena itu berarti kemusnahan total peradaban, kemungkinan perang dewasa ini ialah perang konvensional modern, baik umum maupun terbatas, dan perang/konflik militer pada tingkat/intensitas rendah (perang kecil), termasuk perang gerilya.

Bentuk kedua perang itu, kendati jauh lebih sedikit menggunakan sumber daya nasional ketimbang perang konvensional modern, masih tetap berat bagi negara kecil atau negara berkembang, apalagi jika perang kecil itu berlangsung lama.

Terorisme Internasional merupakan alternatif ketiga, bukan perang konvensional modern, bukan pula perang kecil, tetapi juga bukan diplomasi. Ia adalah perang pengganti yang tidak memerlukan banyak sumber daya. Walaupun ia ditolak oleh dunia internasional sebagai cara penyelesaian konflik yang absah, namun kenyataan menunjukkan, itu dilakukan oleh sekian banyak negara dan kelompok, termasuk negara-negara besar.

  1. Munculnya Terorisme Gabungan

Berbagai kelompok teroris di dunia menunjukkan kesamaan ideologi dan platform perjuangan, yang memungkinkan terjalinnya kerjasama atau dilancarkannya operasi gabungan. Seperti telah dijelaskan, memang telah terjadi operasi bersama atau saling membantu dalam beberapa peristiwa, dan di masa depan kemungkinan operasi gabungan terorisme dapat semakin meningkat.

  1. Meningkatnya Daya Musnah Terorisme

Daya musnah dan akibat terorisme akan semakin meningkat, itu dimungkinkan oleh semakin modernnya masyarakat dan oleh kemajuan teknologi. Proliferasi teknologi dan tenaga nuklir membuka berbagai kemungkinan baru dalam pelaksanaan terorisme, seperti pemerasan politik, penyanderaan massal, bahkan nuclear black mail.

Berbagai senjata ringan, kecil, portable, relatif mudah cara penggunaannya, tetapi dengan daya musnah yang dahsyat, tidak terlalu sulit diperoleh para teroris.

 

Pertumbuhan masyarakat modern serta kemajuan teknologi membuka berbagai kemungkinan besar bagi perkembangan dan peningkatan terorisme. Dalam dimensi internasional, ia bahkan telah mulai tumbuh menjadi “Perang Pengganti”. Dunia yang masih labil dan sarat sengketa dewasa ini merupakan lingkungan yang kondusif bagi terorisme internasional. Kesamaan ideologi dan pandangan politik dari banyak kelompok teroris di dunia mendorong terjalinnya kerjasama dan saling membantu, dan dipermudah lagi oleh kemajuan teknologi informatika dan transportasi. keadaan itu mengaburkan batas-batas antara terorisme domestik dan internasional. “Revolusi Simultan” sudah memasuki alam kemungkinan riil, kendati agaknya masih jauh.

 

Pemerintah negara-negara di dunia berada di ambang pintu era dimana ia tidak lagi merupakan satu-satunya kekuasaan nasional yang memiliki alat dan sarana penghancur, alat dan sarana perang. Alat dan sarana penghancur yang selama ini dipercayakan kepada angkatan perang, juga akan tersedia bagi teroris dan penjahat. Itu akan mempengaruhi berbagai konsep tentang pertahanan dan keamanan, tentang kekuatan dan tugas militer, tentang hubungan dan politik internasional, bahkan juga tentang kepemerintahan.

 

Pada dimensi domestik, itu berarti, pembinaan kehidupan bernegara, berbangsa dan bermasyarakat, haruslah sedemikian rupa, sehingga tidak membuka peluang bagi muncul dan meluasnya tekanan dan gangguan terhadap sistem sosial yang demokratis, terbuka dan adil. Para pemimpin formal dan non-formal harus senantiasa waspada, peka dan tanggap terhadap keadaan masyarakat yang selalu berubah dan menghendaki perubahan.

 

Pada dimensi eksternal perlu dikembangkan suatu mekanisme penyelesaian konflik internasional yang lebih adil, fungsional dan efektif, serta hidup berdampingan secara damai. justru para adikuasa dan negara besar lainnya harus memelopori perkembangan ke arah itu. Langkah permulaan dalam bentuk persetujuan nuklir menengah (INF/Intermediate Nuclear Forces) bulan Desember 1987 yang lalu memberi dampak positif yang membuka harapan lebih baik bagi kelanjutan peredaan ketegangan di masa mendatang. Langkah itu perlu disusul dengan langkah-langkah kongkret berikutnya. Di antaranya yang sangat penting ialah upaya menyelesaikan konflik-konflik regional yang sudah sekian lama berlangsung, terutama di Timur Tengah, Amerika Latin dan Afrika bagian selatan.

 

Sumber :

Terorisme, Perang Pengganti, Majalah Teknologi & Strategi Militer oleh Letjen TNI (Pur) A. Hasnan Habib.

4 thoughts on “Terorisme, Perang Pengganti

  1. Salut untuk Fani, yang pasti UG itu gampangya “SEMBUNYI DALAM TERANG”, bagaimana kita tidak terdeteksi oleh lawan tetapi kita tahu siapa lawan. Dan yang terpenting C3 (cover, cancelment, camuflage) diutamakan disini.

  2. soklah…atasi masalah Indonesia ini dengan pendekatan yang lebih mendidik tidak hanya berpanas2an berdemo…kita bangkitkan kejayaan Indonesia tercinta demi orang-orang yang kita sayangi…sesudah itu baru…masyarakat…hehehehehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s