Regenerasi Gerakan


 

Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (An-Nisa : 104)

 

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (An-Nisa : 9)

 

Sesungguhnya regenerasi adalah sebuah kemestian bagi setiap gerakan, apapun ideologinya. Bagi sebuah gerakan da’wah –dalam hal ini, KAMMI- regenerasi memerlukan beberapa syarat penting yang boleh jadi tidak menjadi sebuah keharusan dalam gerakan lain.

 

Regenerasi di KAMMI berpijak pada keberadaan strata kader yang dikelola oleh departemen kaderisasi KAMMI di setiap komisariat-daerah-pusat. Sehingga kuantitas kader pada setiap strata sangat menentukan apakah proses ini bisa berlangsung lancar atau malah terseok-seok.

 

Bila kita melihat di beberapa gerakan mahasiswa –terlepas dari ideologi, lingkup gerakan dan strategi kaderisasinya- terdapat kerancuan manhaj yang menyebabkan gerakan tersebut seolah-olah kehilangan ’ruh’nya saat pergantian generasi, bahkan ada yang stagnan selama beberapa saat.

 

Hal ini adalah yang ingin dihindari oleh KAMMI, terlebih sebagai gerakan yang diakui memiliki konsep & praksis kaderisasi yang kuat diantara gerakan lain.

 

Setiap jenjang kaderisasi KAMMI memiliki kualitas yang dituntut dari setiap kader (muwashoffat) yang dijabarkan dalam poin-poin IJDK AB1/AB2/AB3. Hal ini juga menentukan seberapa besar beban kerja (positioning) yang boleh diemban oleh kader tersebut. Semakin tinggi strata kader, semakin berat beban tersebut.

 

Tetapi hal ini juga sering menjadi dilema bagi internal KAMMI. Bahwa seringkali krisis kader pada strata tertentu membuat Kaderisasi harus ber-ijtihad dengan kondisi kader yang ada. Walaupun tidak berarti akan ada pemakluman bahwa kader yang tidak semestinya berada di suatu posisi akan diperbolehkan dengan alasan ’darurat’. Bagaimanapun kualitas kader harus menjadi tolok ukur utama positioning.

 

Stagnasi yang melanda gerakan-gerakan mahasiswa bisa disebabkan oleh ketidak jelasan manhaj ataupun kualitas pribadi-pribadi yang berada di dalamnya. Yang sering terjadi, para aktivis ’mengkhianati’ ideologinya demi kepentingan-kepentingan pragmatis belaka. Hal ini patut disayangkan, karena independensi gerakan mahasiswa dipertaruhkan demi kepentingan segelintir oknum.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s