Memaknai Amanah


Memaknai Amanah

 

“Allah memerintahkan kamu menyampaikan amanat kepada yang layak menerimanya. Apabila kamu mengadili diantara manusia, bertindaklah dengan adil, Sungguh Allah mengajar kamu dengan sebaik-baiknya, karena Allah Maha Mendengar, Maha Melihat” (An-Nisa 58)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (Al-Anfal 27)

 

 

Ikhwah fillah, ada begitu banyak konsep tentang amanah. Namun konsep-konsep tadi hanyalah teori belaka manakala tidak ada komunitas yang konsisten menerapkannya dalam keseharian mereka. Karena sesungguhnya konsep membutuhkan muara dan pembuktian, benar-salah hanya bisa dibuktikan melalui implementasi.

 

Sebagaimana kita fahami dari nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah mengenai amanah, maka kita bisa melihat bahwa sebenarnya amanah apapun yang kita miliki saat ini, pada Allah-lah tempat kembalinya. Kekayaan yang kita miliki, waktu, kesehatan dan ilmu, semuanya adalah milik Allah yang dipercayakan pada kita untuk sementara waktu. Sedangkan kewajiban kita ialah hendaknya kita melakukan evaluasi tentang kekuatan yang telah diberikan Allah pada kita, memperhatikan keistimewaan yang diberikan Allah, dan kemudian menggunakannya sesuai kehendak Allah yang memberikan itu semua.

 

Abdullah bin Mas’ud mengatakan, “Berjuang di jalan Allah akan menghapuskan segala dosa, kecuali penyalahgunaan amanah.” Ia melanjutkan bahwa pada hari kiamat orang yang berjihad di jalan Allah akan diminta membayar hutangnya berupa amanah. Orang itu menjawab, “Ya Tuhan, bagaimana mungkin hal itu bias dilakukan sedangkan kehidupan dunia telah berakhir.” Allah berfirman, “Bawa dan masukkan dia ke neraka.” Maimun bin Mihran mengatakan, “Ada tiga cara untuk membedakan baik buruknya seseorang. Yaitu, bagaimana orang itu memelihara amanah, bagaimana ia menepati janji dan keramah-tamahannya.

 

Dari Abdur Rahman bin Samurah, Rasulullah SAW bersabda, “Hai Abdurrahman, janganlah Anda meminta kepemimpinan, kalau kau diberikan karena memintanya berarti itu beban bagimu. Kalau Anda diberikan tanpa memintanya berarti Anda diberikan bantuan dengan tugas itu”. (Riwayat keenam perawi hadits, kecuali Malik)

 

Dari Ubadah bin Shamit katanya, “Kami melakukan baiat perang kepada Rasulullah agar mendengar dan taat dalam susah dan senang, dalam giat, letih dan berat, agar kami tidak akan menentang tugas yang dipikul oleh ahlinya, agar kami mengatakan yang hak dimanapun kami berada, dan agar tidak takut terhadap celaan orang-orang yang mencela kami di jalan Allah.” Demikian disebut di dalam “Al Bidayah 3/164. Hadits serupa diriwayatkan pula oleh Bukhari dan Muslim seperti disebutkan dalam Kitab Targhib 4/3. Apabila seseorang telah ditetapkan memegang suatu kepemimpinan, maka orang yang menghalang-halanginya akan berdosa. Apabila yang telah ditetapkan itu menolak ia pun berdosa.

 

Akan tetapi kita banyak melihat adanya fenomena ’berantakan’nya amanah di tangan para aktivis da’wah. Mengapa? Padahal secara ma’nawiyah, aktivis-aktivis da’wah disiapkan untuk memikul beban yang ’lebih’ dari kebanyakan orang. Hal ini dapat terjadi karena beberapa sebab, antara lain :

 

  1. Ketidakmampuan mengukur diri

Bagaimanapun juga kapasitas pribadi setiap orang berbeda, begitu pula dengan kesanggupannya memikul beban. Tidak semua aktivis da’wah bisa menjadi ’superman’, menangani berbagai permasalahan da’wah yang kompleks sambil membenahi tanggung jawab pribadinya. Karena itu, kemampuan menilai diri harus menjadi skill mendasar para aktivis.

  1. Keterpaksaan

Kita fahami bahwa mayoritas aktivis seringkali ’dipaksa’ untuk menngemban suatu amanah da’wah. Jika level penerimaan seorang aktivis lebih tinggi daripada level kemampuannya, maka ia akan memacu dirinya supaya mampu untuk memikul amanah tersebut. Sebaliknya, jika level penerimaaannya rendah maka akan muncul berbagai masalah ditengah perjalanan. Bagaimanapun juga, gerakan da’wah harus membina aktivisnya agar memilki level penerimaan yang baik dan pada sisi lain melakukan penataan amanah, sehingga tidak memberatkan para aktivisnya.

  1. Kondisi yang tidak ideal

Memang selamanya tidak akan ada kondisi yang benar-benar ideal, yang menyediakan nyaris semua sarana-prasarana untuk ber-aktivitas. Tetapi seringkali kondisi yang tidak ideal ini dipicu oleh sebuah ’ketidakpedulian’. Bagaimana ketika seorang ketua gerakan da’wah dibiarkan memikul seluruh tanggung jawab aktivitas gerakan, yang semestinya dapat di-share antara mas’ul-mas’ul di gerakan tersebut. Memilih seorang pemimpin kemudian membiarkan dia menyelesaikan semua permasalahan adalah sikap yang zalim.

 

Dan, bagaimana menata amanah sehingga tidak membebani diri kita dan pada sisi lain, memenuhi tanggung jawab kita sebagai aktivis da’wah? Ada beberapa trik, antara lain :

 

  1. Melakukan penataan diri sebelum mengambil sebuah amanah

  2. Mendistribusikan amanah yang memang bisa di-share, tidak perlu menjadi ’superman’

  3. Membina kader-kader di bawah sehingga siap untuk menjadi pengganti manakala dibutuhkan

  4. Musyawarah dengan struktural da’wah yang mendistribusikan amanah

  5. Mentarbiyah diri sehingga layak memikul amanah-amanah da’wah

  6. Mengembalikan amanah pada struktural apabila merasa tidak mampu, tidak memaksakan diri

  7. Yang terakhir, mohon pertolongan Allah hingga di akhir perjalanan kita.

 

Wallahu a’lam, Nafa’ni wa iyyakum.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s